Film Animasi JumboFilm Animasi Jumbo

sinarjiwa.id – Film Jumbo, animasi Indonesia, memunculkan pengalaman emosional tak terduga bagi seorang WNI saat menyaksikan langsung respons penonton di Korea Selatan. Bukan sekadar angka box office, suasana ruang bioskop justru menghadirkan momen yang sulit dilupakan.

Di salah satu studio CGV di Daegu, Edi Kuswanto awalnya mengira penonton Film Jumbo didominasi sesama warga Indonesia. Namun, yang ia temui justru berbeda.

Sebagian besar kursi terisi keluarga lokal. Anak-anak datang bersama orang tua mereka, memenuhi studio dengan percakapan ringan sebelum film dimulai. Situasi itu menjadi titik awal perubahan persepsi.

“Hasilnya di luar dugaan,” katanya.

Ketika Harapan Bertemu Kenyataan di Dalam Studio

Sejak awal, Edi mengaku tidak memiliki ekspektasi tinggi terhadap jumlah penonton lokal. Ia bahkan sempat berpikir film dari Indonesia akan sulit menarik perhatian di pasar seperti Korea Selatan.

Namun, realitas di lapangan justru mematahkan anggapan itu.

Jujur kaget dan bangga ternyata saya satu-satunya orang asing di studio tersebut,” ujarnya.

Di sisi lain, yang lebih mengesankan bukan sekadar jumlah penonton. Respons anak-anak sepanjang film berlangsung menjadi pengalaman yang membekas.

Beberapa tertawa pada adegan ringan. Di bagian lain, suasana berubah hening ketika cerita menyentuh sisi emosional. Dinamika itu memperlihatkan bahwa cerita mampu menembus batas bahasa.

Interaksi Kecil yang Meninggalkan Kesan

Sebelum film dimulai, Edi sempat mengalami momen sederhana yang justru terasa hangat. Seorang anak yang duduk di sebelahnya menyapa terlebih dahulu.

Ia membalas sapaan itu. Ibunya yang mendampingi hanya tersenyum.

Mereka sejak kecil diajarkan etika dan tata krama,” katanya.

Interaksi singkat itu menjadi pengalaman personal yang sulit dipisahkan dari keseluruhan kunjungan menonton.

Respons Penonton Korea di Luar Dugaan

Tak hanya suasana di dalam studio, ulasan penonton lokal juga menunjukkan kesan positif terhadap film tersebut.

Beberapa orang tua mengaku awalnya ragu karena film disulih suara. Namun, mereka menilai cerita mampu menyentuh sekaligus menghibur.

Film ini memiliki perpaduan yang baik antara dialog yang menyentuh hati dan momen yang membuat tertawa dan menangis,” tulis salah satu penonton.

Penonton lain menyebut anak-anak mereka menikmati film tersebut, meski ada bagian yang terasa sedih.

Di waktu yang sama, pengalaman ini juga memunculkan refleksi lain bagi Edi. Ia menilai tidak semua persepsi negatif terhadap masyarakat Korea Selatan terbukti benar.

Kalau mereka rasis, tidak mungkin mereka mau menonton film dari Indonesia,” ujarnya.

Selama tinggal di sana, ia merasa diterima dan mendapatkan bantuan dari warga sekitar. Hal itu berbanding terbalik dengan narasi yang kerap muncul di media sosial.

Pengalaman tersebut memperlihatkan sisi lain dari perjalanan animasi Indonesia di luar negeri. Bukan hanya soal capaian angka, tetapi juga tentang bagaimana cerita bisa menghadirkan kedekatan di ruang yang asing.