cegah influenza pada anakCara cegah influenza pada anak menurut dokter spesialis: pakai masker saat sakit, pisahkan peralatan makan, hingga vaksinasi sejak usia 6 bulan.

Cara cegah influenza pada anak perlu diterapkan terutama ketika ada anggota keluarga yang sedang sakit, mulai dari memakai masker hingga vaksinasi. Tujuh langkah ini disampaikan dokter spesialis anak di tengah meningkatnya kasus influenza di Indonesia.

Dokter spesialis anak konsultan infeksi penyakit tropik anak sekaligus ahli epidemiologi klinis, Mulya Rahma Karyanti, menekankan pentingnya pencegahan di lingkungan rumah. Imbauan ini muncul setelah Kemenkes melaporkan kenaikan kasus influenza sejak September.

Cegah Influenza pada Anak Lewat Kebiasaan di Rumah

Pertama, anggota keluarga yang batuk atau pilek sebaiknya memakai masker saat berada di dekat anak. “Jadi karena influenza penularan yang ada lewat droplet, maka untuk memutuskan transmisi penularan untuk anak, tentunya yang sakit, batuk pilek, terutama dewasa, orang tua atau kakek yang di rumah harus menggunakan masker,” kata Mulya.

Kedua, pisahkan peralatan makan dan minum. Gelas, sendok, dan piring anggota keluarga yang sakit tidak boleh dipakai bergantian dengan anak. “Jadi jangan bekas yang sakit kemudian itu diberikan ke anak-anak,” ujarnya.

Ketiga, pastikan nutrisi anak tercukupi. Berikan makanan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral.

Langkah Saat Anak Batuk dan Pilek

Keempat, anak yang sedang batuk dan pilek sebaiknya beristirahat di rumah dan tidak masuk sekolah. “Karena kalau dia ke sekolah, dia akan menularkan ke anak-anak sehat sekitarnya,” tutur Mulya.

Kelima, ajarkan etika batuk. Anak perlu terbiasa menutup mulut dan hidung dengan siku bagian dalam saat batuk atau bersin, karena kebiasaan ini membantu mengurangi penyebaran virus lewat tangan. “Anak-anak terutama diajarkan untuk mulut dan siku,” ujarnya.

Vaksinasi dan Oseltamivir untuk Anak

Keenam, pertimbangkan vaksinasi influenza. Vaksin dapat diberikan mulai usia 6 bulan dan perlu diulang berkala sesuai rekomendasi. “Nah, pencegahan satu lagi, namun ini masih memang dalam sektor swasta, vaksin influenza sudah mulai bisa diberikan di umur lebih dari 6 bulan,” kata Mulya.

Ketujuh, oseltamivir hanya untuk anak berisiko tinggi. Terapi ini ditujukan bagi anak terkonfirmasi influenza yang memiliki risiko komplikasi, seperti penyakit jantung, penyakit paru, asma berat, atau kondisi imunokompromais. “Kemudian, indikasi pemberian terapi oseltamivir pada anak yang terkonfirmasi influenza adalah yang berisiko tinggi,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, upaya cegah influenza pada anak bertumpu pada kebiasaan sederhana di rumah, dari masker dan peralatan makan terpisah hingga etika batuk dan vaksinasi. Untuk pemberian obat, orang tua tetap perlu berkonsultasi dengan dokter.