Opini

Pesan Putin ke Prabowo dan Ancaman Proxy Asing terhadap Umat Islam Indonesia

Analisis geopolitik tentang pesan Putin ke Prabowo di Vladivostok, ancaman proxy asing terhadap NKRI, dan serangan media terhadap umat Islam Indonesia.
Analisis geopolitik tentang pesan Putin ke Prabowo di Vladivostok, ancaman proxy asing terhadap NKRI, dan serangan media terhadap umat Islam Indonesia.

Konflik internal yang bergulir di tubuh umat Islam Indonesia bukanlah sekadar persoalan biasa. Dari peringatan Presiden Vladimir Putin di Vladivostok hingga jawaban tegas Prabowo Subianto dari Pesantren Lirboyo, semua mengarah pada satu dugaan kuat: adanya upaya sistematis "penjajahan gaya baru" oleh proxy asing yang menyasar nadi persatuan bangsa. Lantas, apa sebenarnya yang sedang terjadi di balik serangan terhadap pesantren, stigma negatif organisasi Islam, dan gejolak politik yang mengancam keutuhan NKRI? Berikut analisis mendalamnya.

Nadi bangsa Indonesia, juga nadi umat Islam di negeri ini, sedang dirusak penjajah. Tidak lagi dengan meriam dan kapal perang, melainkan pelan-pelan, sedikit demi sedikit, nyaris tanpa suara.

Lihatlah apa yang terjadi sebulan terakhir. Ledakan masalah sosial datang beruntun. Dan hampir selalu, yang ditonjolkan media adalah kelompok-kelompok muslim. Konflik Muktamar NU tak kunjung reda. Pesantren disorot negatif dan dicap lekat dengan isu seksualitas. Pejabat dari kalangan NU terseret kasus korupsi.

Semua itu menjadi menu panas yang disajikan setiap hari ke hadapan masyarakat Indonesia. Bila dicermati dengan saksama, polanya terang benderang. Ada politik pecah belah yang sedang dihantamkan ke jantung persatuan bangsa, bangsa yang mayoritas penduduknya memeluk Islam.

Peringatan Putin di Vladivostok dan Pesan Geopolitik

Tanda bahaya itu sebenarnya sudah dibunyikan dari luar negeri. Dalam pertemuan internasional di Vladivostok, Rusia, Presiden Vladimir Putin secara khusus mengingatkan Presiden Prabowo Subianto tentang apa yang sedang menimpa bangsa ini.

Pesannya jelas. Prabowo diminta melindungi umat Islam, umat yang telah menjadi mayoritas di bumi Nusantara selama berabad-abad lamanya.

Bahwa seorang pemimpin negara besar merasa perlu menyampaikan pesan semacam itu, sudah cukup menjadi alarm. Ada sesuatu yang dibaca dunia luar, yang barangkali belum sepenuhnya kita sadari di dalam negeri.

Jawaban Prabowo dari Pesantren Lirboyo

Prabowo tidak menjawab pesan itu dengan pernyataan pers. Ia menjawabnya secara tersirat, dari panggung pesantren Lirboyo belakangan ini.

Di hadapan para santri dan kiai, Prabowo mendeklarasikan dengan terang bahwa Indonesia adalah pendukung kemerdekaan Palestina.

Pesan moral itu punya makna yang dalam bagi mayoritas rakyat Indonesia yang anti penjajahan. Ia menegaskan bahwa NKRI berdiri di atas fondasi pengalaman pahit: berabad-abad dijajah bangsa kulit putih.

Pesan itu pula yang berkali-kali disuarakan Prabowo di tengah berbagai pertemuan internasional. Indonesia tahu rasanya dijajah, karena itu Indonesia tidak akan pernah berdiri di pihak penjajah.

Musuh dalam Selimut: Ancaman Proxy Asing terhadap Kedaulatan

Pemerintah harus jeli. Pemerintah perlu melihat lebih jauh ke balik serangan proxy antek-antek asing yang menyasar nadi-nadi umat Islam Indonesia.

Dari sudut pandang kedaulatan, serangan ini bisa dibaca sebagai upaya makar. Sebuah penentangan nyata terhadap pemerintahan Presiden Prabowo oleh musuh dalam selimut.

Musuh itu tidak bergerak sendirian. Ia ditopang antek-antek asing melalui pendanaan global, dan diperkuat media-media proxy yang beroperasi di dalam negeri.

Serangan karakter terhadap basis-basis pesantren dan organisasi Islam seperti NU memperlihatkannya dengan cukup jelas. Sedang terjadi gelombang serangan sporadis yang membidik jantung dan nadi umat Islam Indonesia.

Pesantren di Bawah Bombardir Media

Media antek asing membombardir pesantren tanpa ampun. Satu demi satu pondok diserbu dengan isu pornografi dan kekerasan seksual.

Hal yang semestinya tabu bagi masyarakat beragama justru diumbar dan dieksploitasi tanpa tedeng aling-aling. Akibatnya, kekacauan di ruang publik tak lagi terhindarkan.

Dalam hal ini, media yang berbasis di luar negeri beserta para pendengungnya tampil sebagai garda terdepan. Mereka mencabik-cabik pesantren dengan isu pornografi dan kekerasan seksual.

Tujuannya jelas: merobohkan pesantren sebagai nadi pendidikan umat di akar rumput, sekaligus menghapus jejak sejarahnya sebagai pos pergerakan perjuangan kemerdekaan.

Sebab fakta sejarah tidak bisa dipungkiri. Pesantren pernah menjadi pos sentral perjuangan kemerdekaan. Dari rahimnya lahir banyak pejuang, bahkan para pendiri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jatidiri Bangsa dan Prinsip Mikul Dhuwur Mendhem Jero

Prinsip mikul dhuwur mendhem jero kini nyaris punah. Prinsip yang mengajarkan kita menjunjung martabat dan memendam aib itu dulu mengakar kuat dalam diri bangsa Indonesia.

Jatidiri bangsa inilah yang hendak dihancurkan penjajah asing melalui alat-alat proxy-nya. Yang diserang bukan hanya lembaga, tetapi cara kita memandang diri sendiri.

Bila infiltrasi shadow proxy semacam ini tidak segera dihentikan, ancaman terbesarnya adalah perpecahan di akar rumput. Perpecahan yang bisa membahayakan persatuan bangsa dan keutuhan NKRI.

Akar Rumput yang Tak Bersuara dan Solidaritas Nasional

Perlu ditegaskan, akar rumput bukanlah LSM. Bukan pula warganet yang riuh di linimasa. Akar rumput adalah masyarakat nyata yang menjalani keseharian dengan sederhana. Mereka awam terhadap segala hal yang berbau politik, dan justru karena itu paling mudah terseret arus ketika kegaduhan dibesar-besarkan.

Merekalah yang akan menanggung luka paling dalam bila perpecahan benar-benar terjadi.

Sebagai rakyat akar rumput, kita harus mendukung Presiden Prabowo Subianto melindungi jantung dan nadi umat Islam Indonesia.

Pesantren-pesantrennya harus dilindungi. Organisasi-organisasinya, NU, Muhammadiyah, dan lainnya, harus dijaga dari serangan proxy dan media penjajah asing.

Hanya dengan begitu perpecahan bisa dihindarkan. NKRI tidak kehilangan arah dan jatidirinya sebagai bangsa merdeka yang berdaulat.

Tugas Presiden Prabowo dalam menjaga keutuhan bangsa memang semakin berat. Namun rakyat Indonesia meyakini, Prabowo adalah sosok presiden yang sanggup memikul beban itu.

Penjajahan gaya baru sudah datang, menyusup lewat bayang-bayang proxy-nya. Pertanyaannya kini tinggal satu: apakah kita akan membiarkan nadi umat disayat pelan-pelan, atau berdiri bersama menjaganya?

Opini Penulis