Peningkatan ASI EksklusifIDAI menilai peningkatan ASI eksklusif memerlukan dukungan tempat kerja, keluarga, dan rumah sakit. Ibu bekerja menjadi kelompok paling rentan

IDAI menyoroti ibu bekerja, minimnya dukungan keluarga, dan promosi susu formula sebagai tantangan utama peningkatan ASI eksklusif. Berbagai pihak dinilai perlu terlibat agar cakupan menyusui terus meningkat.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai peningkatan cakupan ASI eksklusif tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran ibu menyusui.

Ketua Satgas ASI IDAI Dr. dr. Naomi Esthernita Dewanto mengatakan keberhasilan menyusui membutuhkan dukungan dari keluarga, tempat kerja, fasilitas kesehatan, hingga pemerintah.

Menurutnya, ibu bekerja masih menjadi kelompok yang paling sering menghadapi kendala mempertahankan ASI eksklusif hingga enam bulan.

Sekitar 45 persen kegagalan pemberian ASI eksklusif berkaitan dengan kondisi tersebut.

Fasilitas Kerja Dinilai Perlu Mendukung Ibu Menyusui

Naomi menjelaskan ibu sebenarnya masih dapat memberikan ASI melalui metode ASI perah setelah kembali bekerja.

Namun, dalam praktiknya, tidak semua kantor menyediakan ruang laktasi maupun kesempatan yang memadai untuk memerah ASI.

Akibatnya, proses menyusui sering terhenti sebelum bayi berusia enam bulan.

Selain itu, promosi susu formula juga dinilai masih menjadi tantangan dalam meningkatkan praktik menyusui di Indonesia.

Program Rumah Sakit Ramah Bayi Perlu Diperkuat

Di sisi lain, Naomi menekankan pentingnya penerapan Baby-friendly Hospital Initiative (BFHI) di rumah sakit.

Program tersebut mencakup sepuluh langkah untuk mendukung keberhasilan menyusui, mulai dari edukasi tenaga kesehatan, penerapan rawat gabung antara ibu dan bayi, hingga larangan promosi susu formula di fasilitas kesehatan.

Menurutnya, pelaksanaan program tersebut dapat meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif secara signifikan.

Naomi juga mengingatkan bahwa edukasi tidak boleh hanya diberikan kepada ibu. Suami dan keluarga inti perlu memahami pentingnya memberikan dukungan selama masa menyusui agar ibu tidak menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar.

Ia menegaskan peningkatan angka ASI eksklusif membutuhkan kolaborasi tenaga kesehatan, keluarga, dunia kerja, pemerintah, dan media sehingga lebih banyak bayi di Indonesia memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya.