Emisi industri farmasi menjadi perhatian WHO setelah sektor kesehatan menyumbang sekitar 5 persen emisi gas rumah kaca global. WHO kini mendorong regulator memasukkan aspek iklim dalam pengawasan obat.
Emisi industri farmasi menjadi perhatian baru dalam upaya menekan perubahan iklim. Sektor kesehatan global menyumbang sekitar 5 persen emisi gas rumah kaca.
Jejak emisi tersebut muncul sepanjang siklus produk farmasi. Proses manufaktur, distribusi, penggunaan, hingga pembuangan ikut menghasilkan emisi.
Menurut WHO, emisi sektor kesehatan meningkat 77 persen antara 1995 dan 2019. Pada periode yang sama, emisi terkait konsumsi global naik sekitar 49 persen.
Emisi Industri Farmasi Masuk Perhatian Regulator
Kondisi tersebut mendorong WHO menyusun kerangka kerja bagi regulator obat dan produk kesehatan. Kerangka itu bertujuan menekan emisi tanpa mengorbankan inovasi dan akses pasien.
Direktur Departemen Regulasi dan Prakualifikasi WHO Rogério Gaspar mengatakan dekarbonisasi membutuhkan perubahan yang cepat dan adil. Regulator memiliki perangkat untuk membangun lingkungan yang mendukung keberlanjutan.
Sementara itu, kerangka WHO berdiri di atas tiga pilar. Ketiganya menyasar literasi iklim, pengukuran emisi, serta pemanfaatan jalur regulasi.
Tiga Pilar Regulasi Farmasi Berkelanjutan
Pilar pertama mendorong peningkatan literasi iklim regulator. Pelatihan regulasi perlu memasukkan aspek keberlanjutan agar regulator memahami sumber emisi dalam rantai pasok.
Selanjutnya, WHO mendorong penyelarasan pengukuran dan pelaporan emisi. Standar data bersama dapat membantu membandingkan kinerja lingkungan antarprodusen dan negara.
Selain itu, regulator perlu membuka dialog lebih awal dengan produsen teknologi rendah emisi. Mekanisme regulasi yang tersedia dapat mendukung inovasi tanpa menurunkan standar keamanan obat.
Yang menarik, WHO mencantumkan Indonesia sebagai contoh penerapan teknologi digital. BPOM menguji informasi produk elektronik pada periode 2023–2025 melalui kode QR.
Dalam praktiknya, sistem tersebut dapat mengurangi kebutuhan kertas dan pencetakan informasi produk. Konsumen juga dapat mengakses informasi obat melalui perangkat digital.
Namun, WHO menekankan bahwa dekarbonisasi tidak boleh mengganggu keterjangkauan obat. Ketahanan rantai pasok dan pemerataan akses tetap harus menjadi pertimbangan utama.
Karena itu, transisi membutuhkan peningkatan kapasitas, transfer teknologi, pembiayaan berkelanjutan, serta kerja sama internasional. Pendekatan tersebut menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari sistem regulasi farmasi.
