Investasi Jawa Tengah mencapai Rp48,54 triliun pada Semester I-2026. Realisasi tersebut berasal dari PMA dan PMDN serta menyerap 213.217 tenaga kerja.
Investasi Jawa Tengah mencapai Rp48,54 triliun sepanjang Semester I-2026. Capaian itu menjadi salah satu penggerak ekonomi provinsi saat tekanan geopolitik masih berlangsung.
Realisasi tersebut berasal dari 55.989 proyek dan menyerap 213.217 tenaga kerja. Nilai investasi juga menunjukkan peningkatan pada triwulan kedua dibanding periode sebelumnya.
Kepala DPMPTSP Jawa Tengah Sakina Rosellasari mencatat investasi triwulan I mencapai Rp23,02 triliun. Sementara itu, triwulan II menghasilkan Rp25,53 triliun.
Investasi Jawa Tengah Naik 10,88 Persen pada Triwulan II
Jika dibandingkan dengan triwulan pertama, realisasi investasi pada April hingga Juni 2026 meningkat 10,88 persen. Kinerja tersebut berlangsung di tengah kondisi geopolitik yang penuh tekanan.
Komposisinya juga terbagi antara modal asing dan domestik. PMA mencapai Rp25,92 triliun atau 53,40 persen, sedangkan PMDN mencapai Rp22,62 triliun atau 46,60 persen.
Karena itu, pemerintah provinsi mulai mendorong pengembangan kawasan industri di sejumlah daerah. Penyediaan kawasan tersebut diarahkan untuk mendukung infrastruktur sekaligus memberikan kemudahan bagi investor.
Pertumbuhan Ekonomi Ikut Menguat
Perkembangan investasi berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Pada Semester I-2026, ekonomi provinsi tumbuh 5,80 persen secara kumulatif.
Di lapangan, capaian ekonomi tersebut juga berkaitan dengan indikator kemiskinan. BPS mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 sebanyak 3,29 juta orang atau 9,21 persen.
Angka itu turun 59.390 orang dibanding September 2025. Jika dibandingkan Maret 2025, jumlah penduduk miskin berkurang 81.250 orang.
Yang jadi sorotan, kontribusi Jawa Tengah mencapai 14,50 persen terhadap ekonomi Pulau Jawa. Kontribusinya terhadap perekonomian nasional mencapai 8,19 persen.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai pembangunan membutuhkan pemerintahan kolaboratif. Ia mendorong kerja bersama antara pemerintah, pengusaha, akademisi, masyarakat, dan media.
Lebih jauh, kolaborasi tersebut mencakup 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Pemerintah menilai kerja tim penting agar program pembangunan memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
Sekda Jawa Tengah Sumarno menyebut semangat tersebut tercermin dalam tema Hari Jadi ke-81 Jateng, “Gumregut Nyawiji”. Tema itu membawa makna kolaborasi dan gotong royong.
