Anak suka mengumpulkan barang seperti batu, daun, atau mainan ternyata merupakan bagian normal dari tumbuh kembang. Pakar menjelaskan kebiasaan ini dapat membantu perkembangan kognitif, bahasa, hingga kemampuan berhitung anak.
Anak suka mengumpulkan barang sering kali membuat orang tua bertanya-tanya. Batu kecil, ranting, daun kering, hingga benda-benda yang terlihat tidak berguna kerap dibawa pulang dan disimpan oleh anak.
Meski tampak acak, para ahli menilai kebiasaan tersebut merupakan bagian dari proses belajar yang alami. Banyak anak mengalami fase mengoleksi benda saat masa kanak-kanak awal hingga pertengahan.
Asisten profesor ECE Rasmussen University, Joni Kuhn, mengatakan aktivitas mengoleksi menunjukkan anak sedang mengembangkan minat sekaligus kemampuan berpikir.
“Ketika anak-anak mengoleksi barang, bagi saya itu berarti mereka sedang mengembangkan minat dan keterampilan kognitif mereka,” ujar Kuhn.
Koleksi Bantu Anak Belajar dan Merasa Aman
Selain mengasah kemampuan kognitif, kebiasaan mengoleksi juga memiliki manfaat emosional. Menurut Kuhn, kegiatan tersebut memberi anak rasa memiliki kendali sehingga membantu mereka merasa lebih aman.
Misalnya, anak yang menyusun penghapus atau menyimpan benda favorit di meja dapat menggunakan rutinitas itu sebagai cara menenangkan diri sebelum mengikuti aktivitas lain.
Sementara itu, psikolog Leslie Taylor menjelaskan kebiasaan mengoleksi berkaitan dengan skema, yaitu pola mental yang membantu anak memahami dunia di sekitarnya.
Melalui koleksi, anak mulai mengenali persamaan, perbedaan, serta hubungan antarobjek yang mereka temukan.
Menyortir Barang Latih Matematika dan Bahasa
Yang menarik, anak umumnya tidak hanya mengumpulkan barang, tetapi juga menyortirnya berdasarkan ukuran, warna, bentuk, atau tekstur.
Dalam praktiknya, aktivitas tersebut membantu membangun kemampuan berhitung, klasifikasi, serta logika sederhana yang menjadi dasar keterampilan matematika.
Selain itu, setiap benda biasanya memiliki cerita tersendiri mengenai waktu ditemukan atau alasan dipilih. Kebiasaan bercerita tersebut ikut memperkaya kosakata dan kemampuan berbahasa anak.
Mengoleksi Berbeda dengan Menimbun
Taylor menegaskan mengoleksi tidak sama dengan menimbun atau hoarding. Koleksi biasanya memiliki tema yang jelas dan anak merasa bangga untuk menunjukkannya kepada orang lain.
Sebaliknya, perilaku menimbun ditandai dengan mengumpulkan berbagai barang tanpa pola yang jelas. Anak juga dapat merasa cemas, malu, atau marah ketika orang lain melihat maupun menyentuh benda-benda tersebut.
Menurut Taylor, kondisi seperti itu dapat menjadi tanda bahwa anak memerlukan perhatian atau intervensi lebih lanjut.
