Bruxism saat tidur dapat membuat rahang pegal, kepala sakit, dan gigi sensitif setelah bangun. Kebiasaan ini sering terjadi tanpa disadari.
Bruxism saat tidur terjadi ketika seseorang menggemeretakkan atau mengatupkan gigi secara berulang. Kondisi ini kerap berlangsung tanpa disadari penderitanya.
Biasanya, seseorang baru mengetahui kebiasaan tersebut setelah muncul keluhan. Dokter gigi juga dapat menemukan tanda kerusakan saat memeriksa kondisi gigi.
Tanda Bruxism Muncul Setelah Bangun
Bruxism malam hari dapat meninggalkan sejumlah tanda yang mudah dikenali. Gigi bisa aus, terkelupas, atau berubah menjadi lebih rata.
Selain itu, sakit kepala dan nyeri wajah dapat muncul ketika seseorang bangun tidur. Rahang yang kaku atau pegal juga menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
Sementara itu, tidur yang terganggu dapat membuat seseorang mudah lelah pada siang hari. Gigi juga bisa menjadi lebih sensitif akibat tekanan berulang.
Dalam kondisi lebih berat, tekanan tersebut bahkan dapat menyebabkan gigi retak atau patah. Dokter gigi Simon Cove mengatakan pemeriksaan dapat memperlihatkan kerusakan akibat bruxism.
Pemeriksaan gigi bahkan dapat menggunakan pemindai tiga dimensi. Dengan pemeriksaan tersebut, dokter dapat melihat perubahan yang mungkin tidak disadari pasien.
Stres Bisa Memicu Bruxism Saat Tidur
Stres menjadi salah satu faktor yang kerap dikaitkan dengan bruxism. Dokter gigi Aditi Desai menyebut kondisi ini semakin sering ditemui.
Psikoterapis Rahi Popat juga mengatakan sejumlah kliennya mengaitkan kebiasaan tersebut dengan tekanan berat. Kondisi itu terutama terlihat pada anak muda.
Menurut Popat, stres dan trauma dapat membuat tubuh masuk kondisi fight or flight. Dalam kondisi tersebut, detak jantung dan kadar adrenalin meningkat.
Pada saat yang sama, otot tubuh ikut menegang, termasuk otot rahang. Karena itu, aktivitas rahang saat malam hari dapat berkaitan dengan ketegangan sepanjang hari.
Bruxism Berkaitan dengan Gangguan Tidur
Bruxism tidak hanya berkaitan dengan kerusakan gigi. Nyeri rahang dan gangguan tidur juga dapat muncul pada kondisi tersebut.
Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan ialah obstructive sleep apnoea atau OSA. Kondisi ini terjadi ketika saluran napas mengalami penyumbatan saat tidur.
Pada keadaan tertentu, gerakan mengatupkan gigi dapat menjadi respons tubuh untuk membantu membuka kembali saluran napas. Karena itu, pemeriksaan sebaiknya tidak hanya melihat kerusakan gigi.
Penanganan Bruxism Sesuai Kondisi
Penanganan bruxism bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Dokter gigi dapat merekomendasikan mouthguard untuk melindungi gigi dari tekanan.
Namun, alat tersebut tidak selalu mengatasi penyebab bruxism. Karena itu, pemeriksaan dokter gigi diperlukan jika gigi mulai aus atau retak.
Pemeriksaan juga penting ketika rahang sering nyeri, sakit kepala muncul setelah bangun, atau tidur menjadi terganggu. Pasangan yang mendengar suara gigi bergesekan saat tidur juga dapat memberikan informasi penting.
