Daerah

Karhutla Kalimantan Selatan Kepung Kampus, Warga Berjuang

Karhutla Kalimantan Selatan Kepung Kampus, Warga Berjuang

Asap pekat menyelimuti Handil Bakti sejak 6 Oktober 2026, dan api hanya berjarak sekitar 50–80 meter dari gedung rektorat UNISKA. Karhutla Kalimantan Selatan kini memaksa mahasiswa belajar dari rumah dan warga menyelamatkan barang dari rumah yang terbakar.

Api merambat di lahan gambut Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala, dan asap tebal mengepung kampus Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al Banjari sejak 6–7 Oktober 2026. Jarak titik api dengan gedung rektorat hanya sekitar 50–80 meter.

Mahasiswa Belajar dari Rumah Demi Keselamatan

Pihak kampus mengalihkan perkuliahan ke sistem daring pada 7–8 Oktober 2026. Rektor UNISKA, Prof. Dr. H. Mohammad Zainul, menjelaskan alasan keputusan itu. "Diliburkan karena asap terlalu pekat, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.

Menurut dia, lokasi kebakaran yang sangat dekat membuat asap menumpuk di area kampus. Kesehatan mahasiswa menjadi pertimbangan utama.

Kampus tidak tinggal diam. Tim internal membersihkan areal sekeliling sebagai sekat agar api tidak masuk ke gedung. "Kita punya dua embung yang memang sejak awal kita siapkan untuk mengantisipasi jika terjadi kebakaran," kata Zainul. Unit Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) kampus juga membasahi lahan gambut seluas 3,5 hektare di sekitar gedung.

Tiga Rumah Terbakar, Warga Berebut Selamatkan Barang

Api tidak hanya mengancam kampus. Tiga rumah di Perumahan Persada Raya 4, Handil Bakti, ikut terbakar. Warga terpaksa mengangkut barang-barang keluar rumah sambil menahan perih akibat asap.

Petugas gabungan, relawan, mobil water cannon kepolisian, dan helikopter water bombing BNPB bergerak ke lokasi. Lahan gambut menyimpan bahan organik yang mudah terbakar. Api juga merambat di bawah permukaan, sehingga sulit dipadamkan.

Aparat di lapangan harus membasahi lahan berulang kali agar bara tidak muncul kembali. Pekerjaan itu melelahkan dan memakan waktu lama.

Karhutla Kalimantan Selatan Hanguskan Puluhan Ribu Hektare

Data BPBD Kalimantan Selatan memperlihatkan skala persoalan ini. Sejak 1 Januari hingga 8 Oktober 2026, karhutla melanda lahan seluas 26.468,61 hektare. Satelit mendeteksi 40.589 titik panas (hotspot) selama periode tersebut. Hotspot adalah titik di permukaan bumi dengan suhu lebih tinggi dari sekitarnya, dan sering menandakan kebakaran.

Perluasan titik api dan keterbatasan sarana mendorong DPRD Banjar serta sejumlah wilayah lain meminta peningkatan status penanganan menjadi tanggap darurat.

Bagi mahasiswa, dosen, dan warga Handil Bakti, kabut asap berarti kelas yang berpindah ke layar, barang yang diselamatkan tergesa-gesa, dan napas yang terasa berat. Mereka kini menunggu api padam dan bantuan yang lebih cepat tiba.