Kasus ISPA pancaroba naik sekitar 30 persen di Garut, Jawa Barat, kata Dinas Kesehatan setempat pada Jumat (16/10/2026). Kemenkes mencatat 333.470 kasus ISPA di tujuh provinsi terdampak karhutla hingga Oktober 2026, sehingga keluarga perlu menjaga daya tahan tubuh.
Masa peralihan dari kemarau ke hujan sedang berlangsung di banyak daerah. Batuk, pilek, dan demam kembali mengintai, terutama bagi keluarga yang punya balita.
Kasus ISPA Pancaroba di Garut Naik Sekitar 30 Persen
Kepala Dinas Kesehatan Garut, Leli Yuliani, menyebut tiga penyakit yang patut diwaspadai warga. Ketiganya adalah influenza like illness (ILI), ISPA, dan demam berdarah dengue.
Catatan dinas menunjukkan kasus ILI dan ISPA naik sekitar 30 persen selama pancaroba. Leli menyampaikannya pada Jumat (16/10/2026), seperti dilaporkan Koran Gala. Menurut dia, "ada risiko-risiko penyakit yang memang bisa timbul di musim pancaroba ini".
Angka 30 persen itu berasal dari Garut dan belum menggambarkan seluruh daerah. Balikpapan, misalnya, mencatat 3.600 kasus ISPA selama Oktober 2026. Kepala Dinas Kesehatan Alwiati menilai angka itu masih terkendali, menurut laporan Kotaku.
Data Kemenkes: Asap Karhutla Ikut Mendorong Kasus ISPA
Di tingkat pusat, Kemenkes melaporkan 333.470 kasus ISPA di 68 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak karhutla. Periode pencatatannya Juli hingga Oktober 2026. Then Suyanti menyampaikan data itu dalam acara daring Info Bencana Terkini, sebagaimana ditulis Warta Ekonomi pada 23 Oktober 2026.
Pada 21 Oktober 2026, penderita ISPA harian di wilayah terdampak mencapai 4.522 orang. Kelompok balita menanggung beban besar, yakni sekitar 75 ribu kasus. Laporan CNN Indonesia memuat angka berbeda. Kemenkes mencatat 314.124 kasus pada 20 Agustus hingga 20 Oktober 2026, termasuk 70.890 balita. Perbedaan itu muncul karena periode hitungnya tidak sama.
Sumatera Selatan memimpin dengan 82.177 kasus, disusul Kalimantan Selatan dengan 78.894 kasus.
Kemenkes juga mengingatkan agar publik tidak menyederhanakan penyebabnya. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Aji Muhawarman menegaskan bahwa "tidak semua kasus ISPA bisa langsung dikaitkan dengan kemarau panjang". Menurut dia, ISPA muncul sepanjang tahun dan sering meningkat saat musim berganti.
Mengapa Peralihan Musim Membuat Tubuh Lebih Rentan
BMKG memprediksi musim hujan 2026/2027 datang bertahap mulai November 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut awal musim hujan mundur di 61,08 persen luas daratan Indonesia, seperti dimuat NU Online.
Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab menambahkan bahwa El Nino masih aktif dengan intensitas sangat kuat. Fenomena itu diprediksi bertahan hingga awal 2027, sebagaimana dilaporkan InfoPublik.
Kondisi tersebut membuat udara panas, asap, dan hujan datang silih berganti. Perubahan cepat seperti itu dapat membuat saluran napas lebih mudah teriritasi. Virus pilek dan flu juga mudah berpindah di ruangan yang padat dan minim sirkulasi udara.
Cara Mencegah ISPA Saat Pancaroba di Rumah
Pencegahan ISPA tidak butuh alat mahal. Kebiasaan kecil yang konsisten dapat membantu menurunkan risiko.
- Cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sepulang dari luar rumah.
- Pakai masker saat udara berasap atau ketika sedang batuk dan pilek.
- Cukupi tidur, air putih, dan makanan bergizi setiap hari.
- Kurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.
- Tutup jendela ketika asap tebal, lalu buka kembali saat udara membaik.
- Tanyakan ke dokter soal imunisasi anak dan vaksin influenza.
Untuk daerah berasap, Kemenkes mendorong pemerintah daerah menyiapkan ruang aman dari asap dengan penyaring udara, seperti dilaporkan ANTARA. Fasilitas itu diprioritaskan bagi bayi, balita, dan ibu hamil.
Kapan Gejala ISPA Perlu Dibawa ke Dokter
Sebagian besar flu ringan membaik dengan istirahat. Namun, beberapa tanda berikut menuntut pemeriksaan segera:
- Napas cepat, tersengal, atau dada tertarik ke dalam saat bernapas.
- Demam tinggi yang tidak turun.
- Anak sulit minum atau menyusu.
- Tubuh sangat lemas atau anak tampak terus mengantuk.
Batuk dan pilek yang tak kunjung membaik dalam beberapa hari juga layak diperiksa. Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan tenaga medis.
Waspada Tanpa Panik
Data Garut dan data Kemenkes memberi pesan yang sama: ISPA butuh perhatian, bukan kepanikan. Penyebabnya beragam, dari peralihan musim hingga asap karhutla. Keluarga yang menjaga kebersihan, istirahat, dan kualitas udara di rumah sudah melangkah ke arah yang tepat. Pantau terus informasi resmi dari dinas kesehatan dan BMKG di daerah Anda.