Mancanegara

Bismillah c'est les ténèbres, Pelajar Prancis Sindir Polisi

Bismillah c'est les ténèbres
Bismillah c'est les ténèbres

Pesan Snapchat “Hai, demi Tuhan, ini adalah kegelapan. Kapan blokadenya, wallah, kawan?” memicu tawa pelajar Prancis sejak awal Oktober 2026. Kini slogan Bismillah c'est les ténèbres menjadi seruan pendemo untuk menyindir polisi, tulis Al Jazeera, Kamis (22/10/2026).

Gelombang protes pelajar di Prancis bergulir sejak 18 September 2026 dari Créteil, di tenggara Paris. Euronews mencatat gerakan itu cepat menjalar ke seluruh negeri. Menurut Presse-Citron, para siswa memprotes kekurangan guru, kelas penuh sesak, dan jadwal pelajaran yang terlalu padat.

Pada Selasa (13/10/2026), Kementerian Dalam Negeri Prancis menghitung 161.500 pengunjuk rasa di seluruh negeri. Organisasi pelajar menyebut angka 480.000 orang, tulis i24NEWS. Selisih besar itu menunjukkan betapa panasnya perdebatan soal gerakan ini.

Arti Bismillah c'est les ténèbres dan Alasan Viralnya

Secara harfiah, slogan tidak resmi ini tidak memiliki makna yang jelas. Para pelajar justru memakainya untuk menyuarakan keluhan yang menjadi akar gerakan protes. Mereka juga menyindir stereotip rasial yang menurut mereka polisi terapkan saat menangani demonstrasi.

Kata “bismillah” berasal dari bahasa Arab dan berarti “dengan menyebut nama Tuhan”. Umat Muslim lazim mengucapkannya sebelum memulai suatu kegiatan, sebagaimana akrab di telinga pembaca Indonesia. Dalam bahasa gaul Prancis, maknanya bergeser menjadi mirip seruan “ayo kita lakukan”.

Adapun “c'est les ténèbres” secara harfiah berarti “ini adalah kegelapan”. Para pendemo memakainya untuk menggambarkan Prancis yang mereka anggap suram dan tanpa harapan. Jika digabung, frasa itu bermakna “Demi Tuhan, ini adalah kegelapan”, kalimat yang tidak menyampaikan pesan lugas.

Euronews melaporkan bahwa para pelajar justru menilai ketidakjelasan itulah yang membuat ungkapan tersebut menempel. Humor tersebut kemudian menjadi kata sandi generasi di antara para pelajar, menurut i24NEWS.

Asal Mula dari Tangkapan Layar Snapchat

Menurut para pelajar, ungkapan itu lahir sebagai sindiran terhadap polisi. Mereka menuding aparat sempat mencoba menyusup ke percakapan media sosial yang dipakai pengunjuk rasa untuk berkoordinasi. Tangkapan layar percakapan di Snapchat mulai beredar pada awal Oktober.

Dalam percakapan itu, seorang pengguna bernama Mamadou meminta masuk ke sebuah grup. Ia menulis, “Hai, demi Tuhan, ini adalah kegelapan. Kapan blokadenya, wallah, kawan?” Pesan tersebut juga memuat emoji bendera Aljazair.

Pelajar meyakini pesan itu datang dari polisi yang menyamar. Menurut mereka, petugas tersebut memakai campuran bahasa Arab dan bahasa gaul yang terasa janggal. Klaim ini belum terverifikasi, dan otoritas Prancis belum memberikan pernyataan apa pun.

i24NEWS menambahkan bahwa tidak ada bukti publik yang mengidentifikasi pengirim pesan itu. Journal du Geek mencatat hukum Prancis sudah beberapa tahun mengizinkan penyelidik ikut dalam percakapan daring dengan nama samaran untuk pelanggaran tertentu.

Slogan Itu Merambah ke Belgia dan Italia

Belakangan slogan tersebut muncul di papan-papan karton sebagai protes terhadap stereotip rasial. Papan itu sekaligus menjadi simbol anggapan bahwa pihak berwenang tidak memahami realitas hidup kaum muda. Euronews mencatat slogan itu tampil di luar Prancis pada 9 Oktober, dalam demonstrasi serikat pekerja di Brussel menentang pemangkasan anggaran.

Slogan itu juga menyebar hingga Italia dan Belgia. Di kedua negara tersebut, aksi protes serupa soal tingginya biaya hidup dan buruknya kualitas pendidikan berlangsung selama akhir pekan.

Pandangan Sosiolog soal Meme dan Islamofobia

Youssef El Chazli, lektor kepala bidang sosiologi Arab dan Mediterania di Universitas Paris 8 Vincennes, Saint-Denis, angkat bicara. Ia menilai ungkapan itu “memperkuat citra polisi Prancis yang tidak memahami realitas lapangan dan penuh dengan stereotip”.

“Stereotip semacam itu tampaknya secara tidak proporsional menyasar kaum muda keturunan Arab dan Afrika. Ini menjadi contoh lain betapa lembaga negara tampak tidak memahami dinamika gerakan yang sedang berlangsung saat ini,” ujar El Chazli.

El Chazli menuturkan meme satir dan tren internet kini menjadi sarana menyuarakan keluhan politik. Menurutnya, aksi protes secara tradisional memang selalu “inventif dan kreatif”. Diskusi seputar Islamofobia pun menjadi sorotan utama dalam perdebatan publik.

Otoritas Prancis cenderung enggan berkomentar secara terbuka soal lonjakan tindakan Islamofobia. Laporan yang dikutip Reuters tahun lalu mencatat kenaikan 72% insiden semacam itu pada Januari–Maret 2025 dibanding periode yang sama tahun 2024.

Kelompok sayap kanan Prancis dengan cepat memakai bahasa rasis untuk menyalahkan pemuda Muslim atas kekerasan yang terjadi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut berkomentar dan mengklaim isu ini berkaitan dengan “keinginan Islam untuk mengambil alih”.

“Apa yang 20 tahun lalu dianggap sebagai isu yang tidak relevan, kini menjadi pokok perdebatan,” kata El Chazli. Bagi generasi muda, pengaruh Arab dan Afrika kian menjadi arus utama dalam subkultur. Peran tokoh olahraga dan seni, acara radio, serta konten media sosial baru ikut mendorongnya.

Sisi Manusia di Balik Slogan Pelajar

Bagi para pelajar yang turun ke jalan, kalimat tanpa logika itu kini menjadi pengikat solidaritas. Mereka menyuarakan keluhan soal sekolah, biaya hidup, dan stereotip lewat humor, bukan semata amarah. Hingga Kamis (22/10/2026), otoritas Prancis belum menanggapi klaim penyusupan tersebut.