Daerah

Pameran Nandur Srawung 2026 Pertemukan 100 Perupa di TBY

Pameran Nandur Srawung 2026
Pameran Nandur Srawung 2026

Halaman Taman Budaya Yogyakarta (TBY) berubah menjadi ruang pamer saat Pameran Nandur Srawung 2026 dibuka Rabu, 21 Oktober 2026. Sebanyak 100 perupa terpilih dari 264 pendaftar tampil dalam tema “Akademi Lanskap” hingga 28 Oktober 2026.

Kurator Gintani Swastika menyebut pembukaan itu sebagai awal perjalanan panjang. “Hari ini kami memulai platform kuratorial selama tiga tahun ke depan,” ujarnya. Menurut dia, platform bernama Akademi itu memberi perhatian lebih bagi seniman muda. “Akademi menjadi platform trilogi kuratorial Nandur Srawung untuk memberikan perhatian lebih dan ekosistem yang mendukung bagi seniman-seniman muda,” tuturnya.

Pameran Nandur Srawung 2026 Dibuka dengan Tema Akademi Lanskap

Taman Budaya Yogyakarta membuka agenda tahunan ini pada Rabu, 21 Oktober 2026. Pengunjung bisa menikmati karya di halaman TBY sampai 28 Oktober 2026. Kepala TBY Purwiati menegaskan bahwa Nandur Srawung dirancang untuk memperkuat ekosistem seni rupa kontemporer, khususnya di Yogyakarta.

“Ini merupakan agenda tahunan Taman Budaya Yogyakarta,” ujar Purwiati. Ia menambahkan, tim kurator muda yang dinamis dan berbakat akan mengawal pameran periode 2026 hingga 2028. Tim itu terdiri atas Gintani Swastika, Febrian A. Hasibuan, dan Tomi Firdaus.

Seleksi Ketat Menjaring Perupa dari Berbagai Pulau

Panitia membuka seleksi lewat mekanisme open call. Dari 264 pendaftar, hanya 100 perupa yang lolos. Mereka berasal dari Sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi, hingga Kalimantan. Pameran ini sekaligus menjadi upaya membaca dan memetakan perkembangan praktik seni rupa kontemporer di Tanah Air.

Tahun ini, pendaftar juga harus menyertakan surat rekomendasi mentor atau pengajar. Syarat tersebut membantu kurator memetakan persebaran seniman muda sekaligus ruang produksi pengetahuan dalam praktik seni rupa. Langkah ini menempatkan peran mentor dan pengajar dalam proses seleksi.

Ruang pertemuan lintas generasi juga terbentuk di sini. Perupa senior seperti Siti Adiyati, Titarubi, Nadiah Bamadhaj, dan Maryanto hadir bersama seniman muda, antara lain Ipeh Nur, Marten Bayuaji, dan Mira Rizki.

Akademi 2026–2028: Dari Lanskap, Lab, hingga Lintasan

Tim kurator menyusun tiga tahap tema untuk platform Akademi. Pada 2026, subtema Lanskap membaca keberagaman praktik, medium, perspektif, dan posisi karya para perupa. Tahun 2027 membawa Lab yang berfokus pada inkubasi. Lintasan pada 2028 akan memperluas jejaring serta membuka peluang kolaborasi dengan organisasi seni di kawasan Asia Tenggara.

Kurator Febrian A. Hasibuan menjelaskan alasan memilih konsep akademi. Ia ingin memperluas fungsi TBY sebagai ruang belajar publik. “Kami memutuskan konsep Akademi karena ingin memperpanjang fungsi Taman Budaya sebagai ruang belajar,” kata Febrian. “Kami ingin membentangkan percakapan yang lebih luas dan berkesinambungan dengan gerak seni kontemporer hari ini.”

Program Publik dan Penghargaan untuk Pengunjung

Warga tidak hanya menikmati karya visual. Panitia menyiapkan kelas penulisan seni, diskusi publik, kuliah umum, wicara seniman, serta Kios Seni bersama Yogyakarta Art Book Club (YKABC).

Skema penghargaan ikut berubah. Penyelenggara mengganti Young Artist Award dengan Audience Recognition Award. Lewat penghargaan baru ini, pengunjung bisa memilih langsung karya dan seniman favorit mereka.

Sementara itu, Lifetime Achievement Award jatuh kepada Melati Suryodarmo. Panitia menilai ia berdedikasi, berkomitmen, dan berkontribusi berkelanjutan bagi seni kontemporer Indonesia. Melati dijadwalkan menyampaikan pidato kebudayaan pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Jejak Nandur Srawung Sejak 2014

Nandur Srawung bukan pendatang baru di kalender seni Yogyakarta. Menurut Mojok.co, festival ini berjalan sejak 2014 dan sudah tampil selama sepuluh tahun berturut-turut pada edisi 2023. Edisi ke-11 pada Agustus 2024 mengusung tema “WASIAT: Legacy”, sedangkan edisi ke-12 mengangkat tema “Awakening” dengan 100 seniman. Edisi ke-13 ini menandai fase baru karena membawa rancangan kuratorial berjangka tiga tahun.

Dampak bagi Perupa dan Pengunjung

Bagi perupa muda, platform tiga tahun ini membuka ruang tumbuh yang lebih terarah, dari pameran hingga jejaring regional. Perupa senior mendapat kesempatan berbagi ruang dengan generasi baru. Pengunjung pun punya peran lebih besar karena suara mereka menentukan penerima Audience Recognition Award.

Melalui Nandur Srawung #13, TBY berharap pameran ini mendorong diskusi kritis, pembelajaran publik, dan perluasan jejaring antarseniman. Program kuratorial hingga 2028 diharapkan memperkuat peran Yogyakarta sebagai ruang penting bagi pertumbuhan seni rupa kontemporer Indonesia.

Sumber: Taman Budaya Yogyakarta; tim kurator Gintani Swastika, Febrian A. Hasibuan, dan Tomi Firdaus.