Anak malas minum air putih kerap berawal dari pengalaman rasa yang kurang menyenangkan, kata peneliti IDI dr Dien Kurtanti, MKM. “Kalau dia mendapatkan pengalaman yang tidak menyenangkan, dia gak suka minum air putih,” ujarnya di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Memenuhi kebutuhan cairan harian kerap menjadi tantangan di banyak rumah, terutama bagi anak-anak yang enggan menenggak air putih. Situasi itu akrab bagi banyak orang tua, sebab anak cenderung memilih minuman manis atau berwarna yang rasanya lebih kuat.
Anak Malas Minum Air Putih, Rasa Ikut Berperan
Dalam Konferensi Pers IDI di Jakarta, Rabu (21/10/2026), dr Dien Kurtanti menjelaskan konsep palatabilitas. Istilah ini merujuk pada tingkat kecocokan rasa air saat menyentuh lidah. Menurut dia, kenyamanan itu dapat mendorong seseorang minum lebih sering secara alami.
Secara sederhana, palatabilitas berarti seberapa nyaman rasa minuman saat masuk ke mulut. Dua air yang sama-sama jernih dan aman bisa terasa berbeda di lidah. Perbedaan itu mungkin membuat sebagian orang lebih mudah menghabiskan air ketimbang yang lain.
“Secara teorinya bahwa palatabilitas mungkin bisa mempengaruhi orang untuk memilih minum air putih,” ujar dr Dien kepada detikcom.
Pengalaman tidak menyenangkan saat meneguk air putih sering menjadi alasan utama anak menolaknya. Akibatnya, mereka mencari alternatif lain dengan cita rasa lebih tegas. Jika air yang tersedia punya profil rasa seimbang, kebiasaan minum air putih pada anak dapat terbangun tanpa paksaan.
“Sering kali pengalaman minum itu ternyata mungkin bisa menjadi salah satu faktor kita juga. Kita suka gak sih minum air putih?” terangnya.
Namun, dr Dien sendiri memakai kata mungkin dan secara teori, sehingga pandangan ini belum menjadi jaminan bagi setiap anak.
Mineral Alami dan Sensasi di Lidah
Dr Dien menilai mineral alami seperti bikarbonat, natrium, dan kalium yang seimbang memberi sensasi rasa yang lebih disukai lidah. Karena itu, air minum yang baik tidak cukup jernih dan aman. Air tersebut juga perlu memberi kenyamanan saat dikonsumsi.
Bikarbonat, natrium, dan kalium termasuk mineral yang secara alami ada di sebagian air. Komposisinya berbeda antar sumber air, sehingga rasa yang sampai di lidah pun bisa berlainan. Orang tua dapat membaca label kemasan untuk mengetahui kandungan mineral dan sumber airnya.
Pandangan tentang pentingnya mineral datang pula dari dokter lain. Kabid Humas PP PDUI, dr Milka Inkiriwang, menyebut mineral esensial berperan bagi tulang, saraf, dan fungsi kardiovaskular. detikHealth memuat pernyataan itu. Ia mengingatkan orang tua agar memastikan air minum memenuhi syarat layak minum menurut Kementerian Kesehatan.
Kebutuhan Cairan dan Kebiasaan Anak
Kebutuhan cairan anak berbeda menurut usia. Halodoc menyarankan orang tua membiasakan anak minum air mineral minimal enam gelas sehari. Orami pada 2017 mengutip data European Journal of Nutrition: anak Indonesia rata-rata minum 2 sampai 3,5 gelas sehari. Angka itu tergolong lama, jadi orang tua sebaiknya melihatnya sebagai gambaran umum.
Kebiasaan minum juga terbentuk bertahap. Anak yang terbiasa menemukan air nyaman di rumah, sekolah, dan perjalanan cenderung lebih mudah menerima air putih sebagai pilihan utama. Karena itu, konsistensi lebih penting daripada target sekali jadi.
Selain memperhatikan rasa, orang tua bisa memakai cara sederhana. detikHealth pernah mengulas tips seperti membelikan botol minum yang menarik dan menyajikan camilan kaya air bersama anak. Halodoc menambahkan pentingnya contoh dari orang tua, yaitu ikut minum air putih di depan anak. Orang tua juga bisa menaruh air di tempat yang mudah anak raih. Memaksa justru membuat minum terasa seperti beban.
Dampak bagi Anak dan Orang Tua
Bagi anak, pengalaman rasa yang nyaman berpotensi membuat air putih terasa lebih bersahabat. Orang tua pun berpotensi terbantu karena perdebatan harian soal minum bisa berkurang. Rasa memang bukan satu-satunya faktor. Kebiasaan keluarga, ketersediaan air, dan contoh orang tua tetap berperan besar.
Pada akhirnya, anak malas minum air putih tidak selalu berarti bandel. Rasa air yang kurang nyaman bisa menjadi salah satu pemicunya, menurut dr Dien dari IDI. Dengan air yang terasa pas di lidah dan contoh dari orang tua, keluarga bisa lebih mudah memenuhi kebutuhan hidrasi harian. Bila anak tampak sangat jarang minum atau menunjukkan tanda dehidrasi, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.