Vaksin Bio-TCV , Kepala BPOM Taruna IkrarVaksin Bio-TCV mendapat dukungan BPOM sebagai vaksin tifoid konjugat pertama buatan Indonesia untuk memperkuat ketahanan kesehatan dan mengurangi impor vaksin.

Vaksin Bio-TCV menjadi vaksin tifoid konjugat pertama buatan Indonesia yang mendapat dukungan penuh BPOM sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan kesehatan nasional dan mengurangi ketergantungan impor vaksin.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat komitmen mendukung inovasi vaksin dalam negeri melalui peluncuran Vaksin Bio-TCV. Produk tersebut diperkenalkan dalam Medical Expo (Med-Expo) FKUI 2026 di Jakarta Pusat pada Kamis, 16 Juli 2026.

Vaksin Bio-TCV merupakan hasil kolaborasi PT Bio Farma (Persero) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Kehadirannya ditujukan untuk menjawab tingginya kasus demam tifoid sekaligus memperkuat kemandirian industri farmasi nasional.

BPOM Kawal Vaksin Bio-TCV dari Registrasi hingga Distribusi

Menurut Ketua BPOM Taruna Ikrar, kemandirian produksi obat dan vaksin menjadi bagian penting dari ketahanan nasional. Pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan gangguan pasokan global dapat berdampak langsung terhadap akses masyarakat terhadap produk kesehatan.

Karena itu, BPOM memproses registrasi Bio-TCV melalui jalur khusus obat pengembangan baru dengan target penyelesaian selama 100 hari kerja. Sebelum menerbitkan izin edar pada 2023, BPOM terlebih dahulu melakukan penilaian terhadap mutu, keamanan, dan khasiat vaksin.

Sementara itu, Bio-TCV menjadi vaksin tifoid ketiga yang memperoleh persetujuan BPOM setelah Vivaxim dan Typhim Vi. Pengawasan tidak berhenti pada tahap registrasi, tetapi berlanjut hingga produk digunakan masyarakat.

Dalam praktiknya, BPOM mengawasi pelaksanaan uji klinik, memastikan penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), memantau rantai dingin distribusi, serta menjalankan farmakovigilans secara berkelanjutan.

Berdasarkan data e-was.pom.go.id periode Januari 2025 hingga Juli 2026, vaksin tifoid telah diproduksi sebanyak dua bets atau 84.719 vial. Selain itu, data Bio Farma per 13 Juli 2026 menunjukkan produksi Bio-TCV telah mencapai 208.235 dosis dengan 30.875 dosis telah didistribusikan.

Untuk menjaga konsistensi mutu, unit pelaksana teknis BPOM mengambil sampel vaksin sepanjang 2026. Sampel tersebut kemudian diuji kembali di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN).

Di sisi lain, vaksinasi tifoid dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung pendekatan One Health sekaligus menekan ancaman resistansi antimikroba. Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 914.000 kasus suspek tifoid sepanjang 2025. Hingga minggu ke-16 tahun 2026, jumlah suspek tercatat mencapai 266.869 kasus.