teknologi Bio-TCVTransfer teknologi Bio-TCV menjadi dasar Bio Farma meningkatkan kapasitas produksi vaksin tifoid dan menyiapkan peluang ekspansi.

Transfer teknologi Bio-TCV menjadi fondasi pengembangan vaksin tifoid buatan Indonesia yang kini dipersiapkan Bio Farma untuk memperkuat kapasitas produksi dan membuka peluang ekspansi ke pasar internasional.

Pengembangan vaksin Bio-TCV tidak hanya berfokus pada pencegahan demam tifoid di dalam negeri. PT Bio Farma juga menyiapkan peningkatan kapasitas produksi sebagai bagian dari strategi memperluas daya saing industri vaksin Indonesia.

Bio Farma Tingkatkan Produksi Bio-TCV Setelah Peluncuran

Perjalanan pengembangan Bio-TCV dimulai melalui kolaborasi dengan International Vaccine Institute (IVI) sejak 2010. Dalam praktiknya, proses transfer teknologi berhasil dilaksanakan pada 2013 sebagai tahapan penting menuju produksi nasional.

Setelah itu, Bio Farma bersama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menjalankan uji klinis fase satu hingga fase tiga. Rangkaian penelitian tersebut menjadi dasar sebelum vaksin memperoleh persetujuan regulator.

Yang menjadi sorotan, Bio Farma kini terus meningkatkan kapasitas fasilitas produksi konjugasi. Langkah tersebut bertujuan memenuhi kebutuhan nasional sekaligus mendukung peluang ekspansi ke pasar global.

Sementara itu, Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya menyebut Bio-TCV merupakan hasil pengembangan dari ekosistem riset hingga produksi dalam negeri. Menurutnya, vaksin tersebut diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap perlindungan dari demam tifoid.

Di sisi lain, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menilai inovasi tersebut memperlihatkan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, peneliti, dan regulator. Kolaborasi itu dinilai menjadi modal memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

Kepala BPOM Taruna Ikrar juga menegaskan pengawasan dilakukan pada setiap tahapan pengembangan. BPOM mendampingi proses uji klinis, standardisasi, produksi, hingga evaluasi mutu, keamanan, dan khasiat vaksin.

Selain mendukung inovasi, pengembangan Bio-TCV berlangsung ketika Indonesia masih menghadapi tingginya kasus tifoid. Data yang disampaikan Bio Farma menunjukkan prevalensi penyakit tersebut mencapai 1,6 persen dari total populasi, sedangkan WHO mencatat sekitar sembilan juta kasus terjadi secara global setiap tahun.

Dengan penguatan fasilitas produksi dan keberhasilan transfer teknologi, Bio Farma terus mempersiapkan langkah lanjutan untuk memenuhi proses kualifikasi internasional sebagai bagian dari strategi pengembangan vaksin buatan Indonesia.