KPK mengungkap peringatan dini melalui penurunan SPI ATR/BPN sebelum operasi tangkap tangan kasus dugaan suap HGB Summarecon.
KPK menyebut Survei Penilaian Integritas atau SPI menjadi salah satu sinyal sebelum OTT di lingkungan ATR/BPN.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan skor SPI kementerian turun 4,58 poin dari 2024 ke 2025.
SPI ATR/BPN Masuk Kategori Rentan
Secara faktual, skor SPI ATR/BPN pada 2025 berada di angka 71,30. Angka itu masuk kategori rentan.
Menurut Budi, penurunan terjadi pada sejumlah komponen penilaian. Karena itu, hasil SPI semestinya menjadi acuan pencegahan korupsi.
Ia meminta kementerian memperkuat pengawasan ketika menemukan penurunan pada area tertentu. Langkah itu penting untuk menutup titik rentan sejak awal.
Komponen Eksternal dan Ahli Ikut Menurun
Komponen responden eksternal mencatat penurunan dari 84,93 pada 2024 menjadi 82,40 pada 2025.
Sementara itu, komponen responden eksper atau ahli turun lebih tajam. Skornya merosot dari 76,26 menjadi 63,89.
Di sisi lain, dimensi transparansi dan keadilan layanan juga mengalami penurunan. Nilainya turun dari 80,12 menjadi 77,10.
Yang patut dicatat, penilaian integritas pegawai juga bergerak naik turun dalam lima tahun terakhir.
- 2021: 87,10 poin
- 2022: 89,58 poin
- 2023: 87,63 poin
- 2024: 90,02 poin
- 2025: 88,81 poin
OTT KPK Berujung Delapan Tersangka
Faktanya, KPK kemudian menetapkan delapan orang sebagai tersangka dalam dugaan suap dan penerimaan lainnya di ATR/BPN.
Kasus tersebut berkaitan dengan pengurusan HGB PT Summarecon. KPK menangkap 19 orang dalam OTT di wilayah Jabodetabek pada 14 September 2026.
Selain itu, penyidik menemukan uang sekitar Rp106,3 miliar dalam operasi tersebut. Uang berasal dari sejumlah lokasi dan berbentuk rupiah serta valuta asing.
KPK kemudian menahan delapan tersangka selama 20 hari pertama. Masa penahanan berlangsung sejak 15 September hingga 4 Oktober 2026.
