sinarjiwa.id — Perjalanan medis Irene Sokoy (31) sejak kontraksi pertama hingga meninggal di ambulans 19 November menyisakan luka kolektif bagi warga Papua. Dari Kampung Hobong ia menempuh jalur air hampir satu jam menuju RSUD Yowari—sebuah perjalanan yang menjadi titik awal perjuangan hidupnya.
Kondisinya memburuk setelah ketuban pecah malam itu. Tanpa dokter spesialis yang berjaga, harapan keluarga berpindah ke rumah sakit lain. Namun pintu-pintu itu tertutup satu per satu. Di RSDH, keluarga menunggu lebih dari dua jam; penolakan membuat situasi emosional makin berat.
Di RSUD Abepura dan RS Bhayangkara, upaya penyelamatan kembali tertunda. “Kami hanya ingin Irene ditolong,” kata suaminya, 19 November.
Kematian di dalam ambulans mengguncang warga Jayapura. Aksi damai Pemuda Saireri 20 November menjadi ekspresi solidaritas terhadap seorang ibu yang kehilangan hak dasar untuk ditolong.
Gubernur Mathius Fakhiri menyebut tragedi ini bukti pelayanan yang “bobrok”. Senator Filep Wamafma menilai sistem rujukan harus dibenahi segera.
Papua yang masih memiliki AKI tertinggi nasional butuh kehadiran negara lebih dekat ke ibu-ibu seperti Irene. (*)
