sinarjiwa.id — Suasana mencekam menyelimuti TPST Bantargebang saat gunungan sampah setinggi 50 meter runtuh seketika, mengubur mimpi dan nyawa para pejuang nafkah di bawah timbunan material pada Minggu siang.
Peristiwa memilukan ini terjadi sekitar pukul 14.30 WIB ketika aktivitas di lokasi sedang padat oleh truk sampah yang mengantre. Fauzan Anarki (28), saksi mata yang baru saja beranjak dari sebuah warung kopi, menceritakan detik-detik horor saat gunung sampah itu ambruk layaknya gelombang besar. “Saya mendengar teriakan ‘longsor! longsor!’ lalu menoleh ke belakang. Gunung sampah itu langsung runtuh,” kenang Fauzan dengan nada gemetar, Minggu (8/3/2026).
Jeritan histeris warga memecah kesunyian lokasi saat warung kopi milik Sumine dan lima unit truk sampah tertimbun seketika. Kabar duka ini segera menyebar melalui grup pesan singkat keamanan TPST, memicu operasi penyelamatan besar-besaran di tengah tumpukan limbah yang sangat labil.
Kehilangan di Kedalaman Timbunan
Hingga Senin, 9 Maret 2026, Tim SAR gabungan telah mengevakuasi enam raga yang sudah tak bernyawa dari kedalaman hampir tiga meter. Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menyebutkan para korban tewas termasuk Enda Widayanti (25) dan pemilik warung, Sumine (60). “Jumlah korban masih terus dalam pendataan berdasarkan keterangan saksi dan pihak keluarga yang kehilangan anggotanya,” ujar Desiana pada Senin (9/3/2026).
Tangis pecah saat satu per satu jenazah ditemukan oleh petugas yang dibantu anjing pelacak K9 dan drone thermal. Di antara mereka terdapat pengemudi truk asal Jakarta Utara, Irwan Supriadi, yang ditemukan di balik kemudi kendaraannya yang ringsek. Sementara itu, satu orang bernama Riki masih dalam pencarian, menyisakan harapan tipis bagi keluarga yang menunggu di pinggir area evakuasi.
Tanggung Jawab dan Perlindungan Korban
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan duka mendalam dan berjanji akan bertanggung jawab penuh atas seluruh biaya pengobatan serta santunan bagi para korban. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa para petugas yang gugur saat bertugas akan mendapatkan haknya melalui BPJS Ketenagakerjaan. “Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan korban yang meninggal dari PJLP akan mendapatkan santunan,” kata Pramono, Senin (9/3/2026).
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, turut menekankan pentingnya evaluasi total agar tragedi kemanusiaan serupa tidak terulang di masa depan. Fokus utama saat ini adalah menuntaskan evakuasi dan memberikan penghormatan terakhir bagi para pahlawan kebersihan yang menjadi korban. Tragedi ini menjadi pengingat pahit tentang risiko besar yang dihadapi mereka yang setiap hari bergulat dengan limbah ibu kota. ***
