Andrie Yunus dan Novel BaswedanPenyiraman air keras kepada aktivis terjadi pada Andrie Yunus (kiri) dan Novel Baswedan (Kanan) - dok Kolase Foto

sinarjiwa.id — Duka mendalam menyelimuti dunia aktivisme kemanusiaan setelah Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, menjadi korban serangan keji penyiraman air keras pada Kamis malam, 12 Maret 2026. Pemuda berusia 27 tahun itu kini harus berjuang di ruang isolasi RSCM Jakarta Pusat dengan kondisi kritis akibat luka bakar serius di wajah, mata, serta tubuhnya.

Tragedi ini terjadi sesaat setelah Andrie menyelesaikan diskusi publik di kantor YLBHI, sebuah tempat yang selama ini menjadi simbol perjuangan rakyat kecil. Saat melangkah keluar untuk pulang, dua orang tak dikenal telah menantinya di kegelapan malam, menyiramkan zat kimia berbahaya yang seketika merusak fisik sang pengacara publik muda tersebut.

Perjuangan Medis dan Trauma yang Mendalam

Tim medis di RSCM melaporkan bahwa Andrie menderita luka bakar hingga 24 persen di sekujur tubuh, termasuk area vital yang mengancam fungsi penglihatannya. Keluarga dan rekan sejawat hanya bisa memantau dari kejauhan, sementara doa-doa terus mengalir agar Andrie mampu melewati masa kritis setelah tindakan biadab yang dialaminya.

“Ini kejahatan yang sangat serius dan biadab. Yang diserang adalah orang baik. Dia kritis, dia peduli, dia mencintai negaranya,” ucap Novel Baswedan dengan nada penuh keprihatinan saat menjenguk, Minggu (15/3/2026). Novel yang juga penyintas serangan serupa memahami betul betapa berat beban fisik dan psikis yang harus dipikul oleh korban saat ini.

Negara Berjanji Beri Keadilan bagi Korban

Presiden Prabowo Subianto secara khusus memberikan instruksi pada 15 Maret 2026 agar Polri bergerak cepat memberikan keadilan bagi Andrie dan keluarganya. Pemerintah menegaskan bahwa rasa sakit yang dialami Andrie adalah luka bagi demokrasi bangsa, dan pelaku di balik teror ini tidak boleh dibiarkan menghirup udara bebas.

“Negara tidak boleh membiarkan cara-cara premanisme hidup,” tegas Menteri HAM Natalius Pigai pada Jumat (13/3/2026) menanggapi musibah tersebut. Penanganan medis yang maksimal kini tengah diberikan, sembari menunggu titik terang dari penyelidikan kepolisian untuk mengungkap siapa yang tega menghancurkan masa depan pemuda yang dikenal vokal membela kaum tertindas ini.***