ASI Eksklusif IndonesiaASI eksklusif Indonesia meningkat menjadi 66 persen pada 2024. IDAI menyebut sepertiga bayi masih belum mendapat ASI eksklusif, terutama karena tantangan ibu bekerja.

ASI eksklusif di Indonesia meningkat menjadi sekitar 66 persen pada 2024. Meski demikian, IDAI menyebut sekitar satu dari tiga bayi masih belum memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya.

Cakupan ASI eksklusif di Indonesia terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data WHO dan UNICEF, angkanya naik dari 52 persen pada 2017 menjadi sekitar 66 persen pada 2024.

Namun, Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Naomi Esthernita Dewanto, Sp.A, Subsp.Neo(K), menilai capaian tersebut belum mencerminkan kondisi yang ideal.

Menurutnya, sekitar sepertiga bayi di Indonesia masih belum mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan.

Ia menegaskan kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya tantangan dalam meningkatkan praktik menyusui di Indonesia.

Ibu Bekerja Jadi Tantangan ASI Eksklusif

Naomi menjelaskan salah satu penyebab utama rendahnya cakupan ASI eksklusif adalah minimnya pendampingan dan edukasi bagi ibu menyusui.

Selain itu, ibu bekerja menjadi kelompok yang paling rentan menghentikan pemberian ASI eksklusif sebelum enam bulan.

Menurutnya, sekitar 45 persen kegagalan ASI eksklusif berkaitan dengan kondisi ibu yang telah kembali bekerja.

Padahal, ibu tetap dapat memberikan ASI melalui ASI perah. Namun, tidak semua tempat kerja menyediakan ruang laktasi maupun waktu yang cukup untuk memerah ASI.

Akibatnya, banyak ibu kesulitan mempertahankan pemberian ASI eksklusif hingga enam bulan sesuai rekomendasi.

Promosi Susu Formula dan Dukungan Keluarga Jadi Sorotan

Selain faktor pekerjaan, Naomi juga menilai promosi susu formula masih menjadi hambatan dalam meningkatkan angka menyusui.

Di sisi lain, ia menegaskan keberhasilan pemberian ASI tidak hanya bergantung pada ibu.

Menurutnya, keluarga inti, terutama suami, memiliki peran penting dalam memberikan dukungan selama proses menyusui.

Ia juga menyoroti pentingnya penerapan Baby-friendly Hospital Initiative (BFHI) di fasilitas kesehatan. Program tersebut mencakup edukasi tenaga kesehatan, rawat gabung ibu dan bayi, serta larangan promosi susu formula di rumah sakit.

Naomi menilai peningkatan cakupan ASI eksklusif memerlukan keterlibatan tenaga kesehatan, keluarga, tempat kerja, pemerintah, dan media agar lebih banyak bayi memperoleh haknya mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan.