teater akademik, sinar jiwaFTDI 2026 menegaskan bahwa dosen teater bukan hanya pengajar, tapi juga seniman yang mempertanggungjawabkan gagasan lewat panggung.

Selama ini kita terbiasa membayangkan dosen sebagai sosok yang berdiri di depan kelas, menjelaskan teori, membedah konsep, lalu menutupnya dengan tugas dan ujian. Tapi apa jadinya ketika dosen justru turun dari mimbar dan naik ke atas panggung, bukan untuk mengajar, melainkan untuk dipertontonkan?

Festival Teater Dosen Indonesia (FTDI) 2026 yang berlangsung di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 25–30 Agustus 2026 memberi jawaban yang menggelitik sekaligus menantang asumsi lama tentang peran akademisi. Dengan tema “Panggung Gagasan dalam Estetika Akademik”, festival ini menegaskan bahwa dunia kelas dan dunia panggung tidak harus berjalan di jalur yang terpisah.

Yang menarik, FTDI sengaja tidak menempatkan diri sebagai ajang kompetisi seperti festival teater pada umumnya. Karya-karya yang dipentaskan, mulai dari “Cara Menjadi Sederhana” karya Ab Asmarandana, “Masa Yang Tertukar” karya Fitri Rahmah, hingga “Hikayat Sepatu #2: Dikupung Kayu” karya Dr. Teuku Afifuddin, diposisikan sebagai bagian dari proses berpikir, bukan sekadar tontonan untuk dinilai menang atau kalah.FTDI, sinar jiwa

Di sinilah pertanyaan reflektif muncul: apakah pengetahuan akademik selama ini terlalu lama dikurung di ruang kelas dan jurnal ilmiah? Ketika seorang dosen memilih membawa gagasannya ke panggung, ia sebenarnya sedang mempertaruhkan sesuatu yang lebih berisiko daripada menulis makalah. Sebab di atas panggung, gagasan tidak bisa bersembunyi di balik istilah teknis. Ia harus terbaca lewat tubuh, gerak, dan tatapan penonton yang duduk hanya beberapa meter di depan.

FTDI, dengan caranya sendiri, mengajukan gagasan bahwa dosen bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga bisa menjadi seniman yang mempertanggungjawabkan pemikirannya lewat karya. Batas antara “yang mengajar” dan “yang berkarya” pun menjadi kabur, dan barangkali memang begitu seharusnya.

Pada akhirnya, festival ini mengingatkan kita pada satu hal sederhana: pengetahuan tidak selalu perlu dijelaskan. Kadang, ia hanya perlu dipentaskan, dan biarkan penonton yang menilai apakah gagasan itu benar-benar hidup atau sekadar teori yang berjalan di atas panggung.