Alergi Anak Faktor KeturunanAlergi pada anak tidak selalu diturunkan dari orang tua. Dokter menjelaskan faktor genetik, atopi, alergen, lingkungan memengaruhi risiko.

Alergi pada anak tidak selalu diturunkan dari orang tua dengan jenis yang sama. Dokter menjelaskan bahwa yang diwariskan adalah kecenderungan tubuh mengalami reaksi alergi, sedangkan jenis dan tingkat keparahannya dipengaruhi berbagai faktor.

Alergi pada anak kerap menjadi kekhawatiran bagi banyak orang tua yang memiliki riwayat asma, alergi debu, alergi makanan, atau gangguan alergi lainnya. Tidak sedikit yang menganggap anak pasti akan mengalami kondisi serupa apabila salah satu atau kedua orang tuanya memiliki alergi.

Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Riwayat alergi dalam keluarga memang dapat meningkatkan risiko, tetapi tidak berarti anak pasti mengalami alergi ataupun memiliki jenis alergi yang sama dengan orang tuanya.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi-Imunologi, Molly Dumakuri Oktarina, mengatakan faktor keturunan berperan dalam meningkatkan peluang munculnya alergi pada anak. Namun, yang diwariskan bukanlah jenis alerginya, melainkan kecenderungan sistem imun untuk bereaksi berlebihan terhadap zat tertentu.

Dengan kata lain, anak tetap memerlukan paparan alergen sebelum gejala alergi muncul.

Seberapa Besar Risiko Alergi Diturunkan kepada Anak?

Menurut Molly, risiko alergi pada anak bergantung pada riwayat alergi dalam keluarga.

Apabila salah satu orang tua atau salah satu saudara kandung telah didiagnosis mengalami alergi, peluang anak mengalami gejala alergi berkisar antara 20 hingga 40 persen.

Kalau salah satu orang tua, baik ibu ataupun ayah, dan/atau salah satu saudara kandung sudah didiagnosis mengalami alergi, maka anak berisiko memiliki gejala alergi sekitar 20-40 persen,” kata Molly dalam acara menjelang World Allergy Week 2026 bersama Sarihusada di Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.

Sementara itu, risiko meningkat menjadi sekitar 40 hingga 60 persen apabila ayah dan ibu sama-sama memiliki riwayat alergi.

Yang patut dicermati, peluang tersebut dapat mencapai sekitar 80 persen apabila kedua orang tua mengalami jenis alergi yang sama, misalnya sama-sama menderita asma.

Kalau gejala pada ibu dan bapaknya sama, misalnya ibunya asma dan bapaknya asma juga, maka risiko anaknya bisa sampai 80 persen,” ujarnya.

Meski demikian, anak dari orang tua tanpa riwayat alergi tetap memiliki kemungkinan mengalami alergi dengan risiko sekitar 5 persen.

Bukan Mewariskan Jenis Alerginya

Molly menjelaskan bahwa kecenderungan mengalami alergi dikenal sebagai atopi. Kondisi inilah yang umumnya diwariskan dalam keluarga.

Artinya, ibu yang memiliki alergi makanan laut belum tentu memiliki anak dengan alergi makanan laut.

Begitu pula ayah yang menderita asma tidak otomatis memiliki anak dengan penyakit yang sama.

Yang lebih mungkin diwariskan adalah kecenderungan sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya.

Selain faktor genetik, jenis alergi yang muncul juga dipengaruhi paparan lingkungan, waktu munculnya gejala, serta respons imun setiap anak.

Gejala Alergi Muncul Jika Dua Faktor Bertemu

Menurut Molly, gejala alergi biasanya muncul ketika dua kondisi terjadi secara bersamaan.

Pertama, anak telah memiliki kecenderungan atau risiko alergi. Kedua, anak terpapar alergen yang memicu reaksi tubuh.

Gejala alergi itu timbul apabila ada dua faktor. Yang satu adalah riwayat, jadi anak sudah memiliki riwayat atau risiko alergi. Yang kedua adalah terpajan alergen. Kalau dua-duanya ada, maka timbul gejala alergi,” jelasnya.

Alergen yang memicu reaksi dapat berbeda pada setiap anak.

Pemicunya antara lain protein susu sapi, telur, kacang-kacangan, makanan laut, debu, tungau, serbuk sari, maupun bulu hewan.

Karena itu, orang tua tidak dianjurkan menebak penyebab alergi hanya berdasarkan riwayat keluarga.

Pemeriksaan oleh dokter tetap diperlukan untuk memastikan apakah gejala yang muncul benar merupakan alergi sekaligus mengetahui pemicu utamanya.

Lingkungan dan Nutrisi Turut Memengaruhi Risiko Alergi

Selain faktor keturunan, lingkungan juga memiliki peran penting dalam membentuk sistem imun anak.

Pemenuhan nutrisi sejak awal kehidupan menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menurunkan risiko alergi.

Molly menjelaskan bahwa pemberian ASI dapat mendukung perkembangan sistem kekebalan tubuh.

Selain itu, metode persalinan juga dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota baik di dalam tubuh anak.

Mikrobiota baik itu bisa mempercepat atau membantu pematangan sistem imun, sehingga dapat mencegah kejadian alergi pada anak,” katanya.

Di sisi lain, kesehatan saluran cerna, pola makan, kondisi kulit, serta paparan lingkungan turut memengaruhi respons imun anak terhadap berbagai alergen.

Yang menjadi sorotan, risiko alergi tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik. Berbagai faktor tersebut saling berinteraksi dalam menentukan muncul atau tidaknya gejala alergi.

Secara faktual, orang tua yang memiliki riwayat alergi tidak perlu langsung beranggapan bahwa anak pasti mengalami kondisi serupa. Yang lebih penting adalah mengenali gejala sejak dini, memperhatikan pola kemunculannya, dan berkonsultasi dengan dokter apabila tanda-tanda alergi muncul secara berulang.