Kesehatan mental generasi muda menjadi perhatian serius di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Kemudahan akses informasi dinilai membuat anak muda lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, hingga kesulitan menghadapi tekanan hidup.
Kesehatan mental generasi muda menjadi isu yang semakin mendapat perhatian seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Arus informasi yang begitu cepat dinilai membawa tantangan baru bagi anak muda dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.
Di satu sisi, kemajuan teknologi memberikan kemudahan dalam mengakses informasi dan memperluas interaksi sosial. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko munculnya tekanan psikologis apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola emosi.
Pengamat kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, dr. Ari Udijono, M.Kes, menilai ketahanan mental generasi muda saat ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius.
Menurutnya, perubahan sosial yang berlangsung cepat turut memengaruhi cara anak muda dalam merespons berbagai tantangan kehidupan.
Generasi Muda Dinilai Lebih Rentan Mengalami Kecemasan
Dr. Ari mengatakan sebagian anak muda saat ini cenderung lebih mudah terpengaruh oleh berbagai kondisi di sekitarnya.
Akibatnya, mereka lebih rentan mengalami kecemasan maupun depresi ketika menghadapi persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kemampuan untuk bertahan menghadapi tekanan perlu terus diperkuat sejak usia muda.
“Ketahanan mental anak-anak muda ini kalau saya lihat kurang tangguh. Jadi gampang sekali terpengaruh, mudah depresi atau mudah cemas,” ujarnya dalam Dialog Semarang Menyapa RRI Semarang, Senin, 22 Juni 2026.
Yang patut dicermati, generasi muda saat ini tumbuh di lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Mereka memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai informasi yang tersebar melalui media digital.
Namun, derasnya informasi juga dapat menimbulkan tekanan apabila tidak diimbangi kemampuan menyaring informasi secara bijak.
Anak Muda Dinilai Lebih Mudah Menarik Diri Saat Menghadapi Masalah

Dr. Ari melihat fenomena tersebut dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, sebagian anak muda cenderung memilih menghindari persoalan daripada mencari solusi.
Padahal, beberapa masalah sebenarnya masih dapat diselesaikan melalui komunikasi dan pendampingan.
“Kalau anak-anak sekarang itu sedikit menghadapi masalah, kadang kemudian menghilang, menarik diri, dan tidak menyelesaikan persoalannya. Ini yang menjadi problem,” katanya.
Dalam konteks tersebut, kemampuan menyelesaikan masalah menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperkuat.
Dengan kata lain, anak muda perlu dibekali keterampilan untuk menghadapi tekanan hidup secara lebih sehat.
Bullying Dapat Memperburuk Kondisi Psikologis Remaja
Selain pengaruh lingkungan digital, kasus perundungan atau bullying juga menjadi faktor yang memperbesar risiko gangguan kesehatan mental.
Korban bullying sering kali memendam persoalan yang mereka alami tanpa menceritakannya kepada orang lain.
Akibatnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri dan kondisi psikologis dalam jangka panjang.
“Kalau dia dibully berkali-kali, akhirnya dia minder, merasa tidak percaya diri. Akhirnya menjadi problem yang berkaitan dengan kesehatan mental,” ujarnya.
Yang jadi sorotan, dampak bullying tidak hanya muncul pada kondisi emosional seseorang.
Masalah tersebut juga dapat memengaruhi aktivitas belajar dan hubungan sosial sehari-hari.
Kesehatan Mental dan Fisik Tidak Bisa Dipisahkan
Dr. Ari menegaskan bahwa kesehatan fisik dan kesehatan mental merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan.
Gangguan pada salah satu aspek dapat memengaruhi kondisi aspek lainnya.
Karena itu, keseimbangan keduanya perlu dijaga sejak usia muda.
“Fisik dan mental itu satu kesatuan utuh, kalau fisik sakit, mental bisa terganggu. Sebaliknya kalau mental terganggu, fisik juga akan ikut terdampak,” ucapnya.
Pada saat yang sama, peran keluarga juga menjadi faktor yang sangat penting.
Ia mengajak orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih aktif dengan anak-anaknya.
Menurutnya, hubungan yang berkualitas dalam keluarga perlu menjadi perhatian selain pencapaian akademik.
Tak hanya itu, kebersamaan dalam keluarga dapat membantu anak menghadapi tekanan sosial yang semakin kompleks di era digital.
Secara faktual, penguatan ketahanan mental generasi muda memerlukan dukungan dari keluarga, lingkungan pendidikan, dan kemampuan individu dalam mengelola berbagai tantangan yang muncul di tengah perkembangan teknologi.
