Asal Kayu Gelondongan Sumut: Ketika Data Fisika dan Narasi Pemerintah Memicu Kegelisahan Publik

Illegal Logging Penyebab Banjir Sumatera

sinarjiwa.id – Pemandangan ribuan kayu gelondongan tanpa ranting yang terbawa banjir Sumatra membuat publik cemas. Fenomena itu muncul di Tapanuli hingga Padang dan menimbulkan kekhawatiran akan kerusakan hutan yang lebih dalam dari yang terlihat.

Ahli matematika lulusan ITB, Alif Towew, mencoba meredakan kebingungan dengan pendekatan ilmiah. Ia mengajak publik menghitung massa jenis kayu untuk menilai apakah kayu tersebut tumbang alami atau hasil penebangan. “Apakah benar tumbang? Mari kita hitung,” ujarnya.

Alif menjelaskan kayu lama yang kadar airnya turun akan mengapung tinggi. Sebaliknya, kayu baru yang basah akan tenggelam atau mengapung rendah. Banyak kayu dalam video tampak mengapung tinggi, sehingga menurutnya indikasi kayu lama cukup kuat.

Ia juga menyoroti bentuk kayu yang bersih dan seragam. Dalam narasi publik, kayu tanpa dahan sering dianggap sebagai bukti penebangan. Ketidaksesuaian antara penampilan kayu dan klaim tumbang alami memunculkan rasa waswas di masyarakat.

Baca Juga :  Bantuan Korban Banjir Sumatera Disiapkan Berlapis, Pemerintah Percepat Pemulihan Rumah Warga

Alif menghitung sekitar 3.000 batang kayu berdiameter 70 sentimeter dan panjang empat meter. Volume total mencapai 4.620 meter kubik. Angka ini ia bandingkan dengan hutan sekunder yang memiliki 80–200 pohon per hektare.

Dengan perhitungan itu, luas 57–231 hektare dibutuhkan untuk menghasilkan kayu sebanyak itu. “Apakah ada longsor seluas 80 lapangan sepak bola?” tanya Alif. Pertanyaan itu menggugah banyak orang karena tidak ada laporan longsor berskala raksasa.

Namun pemerintah menyampaikan penjelasan berbeda. Dirjen Gakkum Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, menyebut kayu tersebut mayoritas kayu lapuk dan tumbang alami, serta sebagian berasal dari penebangan legal di area berizin.

Ini analisis kami dan laporan wakil menteri,” kata Dwi, Jumat (28/11/2025). Ia menambahkan praktik pembalakan liar kini lebih banyak di Indonesia timur, bukan di lokasi banjir Sumatra.

Baca Juga :  Sisa Dana Bantuan Bencana Rp200 Miliar Masih Proses Pencairan

Perbedaan narasi antara hitungan ilmiah dan keterangan resmi memunculkan kegelisahan sosial. Publik menilai kejelasan sumber kayu bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal rasa aman ekologis. Investigasi menyeluruh dinilai perlu untuk menghilangkan kecemasan kolektif. (*)