sinarjiwa.id – Galon air isi ulang buram kerap berdiri diam di sudut dapur rumah tangga. Ia terlihat biasa. Namun, di balik permukaannya yang kusam, tersimpan risiko kesehatan yang bekerja perlahan. Investigasi Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menemukan galon guna ulang berusia hingga 13 tahun masih beredar dan dikonsumsi masyarakat. Padahal, para ahli menyebut batas aman galon hanya sekitar satu tahun atau 40 kali pengisian ulang. Intinya jelas. Air minum harian bisa menjadi jalur paparan zat kimia berbahaya tanpa disadari.
Dalam keseharian, galon jarang diperiksa. Airnya diminum. Dipakai memasak. Diseduh untuk anak. Sayangnya, kondisi fisik galon sering luput diperhatikan.
Galon Buram dan Risiko BPA dalam Konsumsi Harian
Berdasarkan penelusuran KKI di 60 kios Jabodetabek, 57 persen galon air isi ulang berusia di atas dua tahun. Bahkan, delapan dari 10 galon tampak buram dan kusam. Secara faktual, tampilan ini bukan sekadar estetika. Ahli polimer Universitas Indonesia, Profesor Mohamad Chalid, menegaskan bahwa penggunaan dan pencucian berulang merusak struktur plastik galon.
Kerusakan itu memungkinkan Bisfenol A atau BPA terlepas dan larut ke dalam air. “Itu artinya tidak sampai setahun. Ini batas amannya,” ujar Chalid soal usia pakai galon. Dampaknya tidak instan. Namun, efek jangka panjangnya nyata.
Berbagai studi mengaitkan paparan BPA dengan gangguan metabolisme, kesuburan, hingga risiko kanker. Bagi ibu hamil dan anak, risikonya lebih sensitif.
Dapur Rumah Jadi Titik Paparan Tanpa Disadari
Di lapangan, galon tua tetap digunakan karena dianggap masih berfungsi. Airnya jernih. Tidak berbau. Namun pada kenyataannya, bahaya kimia tidak selalu kasat mata. Spesialis anak dr Kanya Ayu Paramastri menjelaskan bahwa galon tua lebih rentan terkontaminasi BPA, terutama jika bagian dalamnya tergores akibat pencucian kasar.
“Sehingga memungkinkan terjadinya peluruhan (BPA) ke bahan makanan atau minuman,” kata dr Kanya. BPA bersifat pengganggu hormon. Jika terakumulasi, ia dapat memicu hipertensi, diabetes, hingga gangguan perkembangan saraf pada anak.
Kesadaran Konsumen dan Lemahnya Pengawasan
Di sisi lain, pengawasan terhadap galon air isi ulang dinilai belum optimal. Ketua KKI David Tobing menyebut temuan galon produksi 2012 sebagai indikasi masalah sistemik. Badan Perlindungan Konsumen Nasional pun mendesak produsen menarik galon berusia lanjut tanpa menunggu sanksi hukum.
Artinya, perlindungan konsumen belum sepenuhnya berjalan di dapur-dapur rumah. Galon buram tetap beredar. Air tetap dikonsumsi. Risiko pun berjalan sunyi.
