Blok MaselaSalah satu kilang di blok masela

sinarjiwa.id — Setelah penantian panjang selama 26 tahun, secercah cahaya mulai nampak di ufuk timur Indonesia seiring terbitnya dokumen AMDAL untuk Proyek Abadi Blok Masela pada Jumat, 13 Februari 2026.

Kabar ini membawa kelegaan emosional bagi masyarakat Maluku yang selama puluhan tahun hanya mendengar riuh polemik tanpa kepastian produksi. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut momen ini sebagai hadiah yang sangat berarti bagi seluruh bangsa Indonesia.

“Alhamdulillah akhirnya kemarin di hari baik Jumat Barokah telah terbit AMDAL buat Proyek Masela, sebagai hadiah menjelang Ramadhan, Insya Allah Groundbreaking dalam waktu dekat,” tutur Djoko Siswanto pada 14 Februari 2026.

Menyentuh Nadi Kehidupan Warga

Proyek raksasa di Laut Arafura ini bukan sekadar angka investasi senilai Rp353 triliun, melainkan tumpuan hidup bagi ribuan keluarga di Kepulauan Tanimbar. Bupati Kepulauan Tanimbar, Ricky Jauwerissa, menekankan bahwa percepatan proyek ini harus dibarengi dengan pelibatan nyata masyarakat lokal.

“Percepatan perizinan harus dibarengi dengan pelibatan masyarakat lokal agar manfaat ekonomi proyek raksasa ini benar-benar dirasakan warga Tanimbar,” tegas Ricky pada 9 Desember 2025. Harapan besar ini digantungkan pada 10.000 lowongan kerja yang diprediksi tercipta selama masa konstruksi.

Menjaga Alam demi Masa Depan

Di balik ambisi mengejar lifting gas, terselip komitmen luhur untuk menjaga kelestarian alam melalui teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). INPEX berupaya memastikan bahwa energi yang dihasilkan tidak meninggalkan luka bagi ekosistem laut Maluku yang indah.

Executive Project Director INPEX Masela, Jarrad Blinco, menegaskan bahwa proyek ini dirancang untuk menyediakan energi sekaligus mendorong dekarbonisasi. Dengan dimulainya pembangunan infrastruktur dasar pada April 2026, langkah kaki menuju kesejahteraan Maluku kini terasa kian nyata. ***