Kebakaran hutan Eropa dan Topan Noul menjadi sorotan internasional setelah memaksa ratusan ribu warga mengungsi, sementara konflik Amerika Serikat dan Iran kembali menyita perhatian dunia.
Kebakaran hutan Eropa yang melanda Prancis dan Spanyol terus meluas hingga akhir pekan. Bencana tersebut memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka, sementara gelombang panas dan kekeringan berkepanjangan memperburuk kondisi di sejumlah wilayah.
Di Prancis, kobaran api bergerak dari pesisir barat daya menuju kawasan pedalaman hingga mendekati Bordeaux. Kondisi itu membuat pemerintah mengerahkan angkatan bersenjata untuk membantu petugas pemadam kebakaran yang menghadapi medan semakin sulit.
Sementara itu, Spanyol menghadapi situasi serupa. Asap tebal dan kobaran api menghanguskan sejumlah rumah di sekitar Madrid. Bahkan, pemerintah menetapkan keadaan darurat nasional pertama terkait kebakaran hutan setelah tiga titik kebakaran besar muncul dalam waktu berdekatan.
Bencana Alam dan Konflik Global Jadi Sorotan Internasional
Menurut Reuters Climate Monitor, wilayah Prancis yang terdampak kebakaran mencatat suhu tinggi rata-rata mencapai 32,2 derajat Celsius sepanjang Juli. Angka tersebut sekitar 7,3 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode 1961 hingga 1990.
Secara faktual, para ilmuwan mengaitkan peningkatan frekuensi kebakaran dengan kekeringan berkepanjangan dan gelombang panas yang semakin intens akibat perubahan iklim.
Di sisi lain, China juga menghadapi bencana alam besar setelah Topan Noul menghantam pesisir selatan negara itu pada Minggu, 26 Juli 2026. Lebih dari 340 ribu penduduk dievakuasi sebelum badai mencapai daratan.
Pusat topan mendarat di dekat Kota Pinghai, Provinsi Guangdong, sekitar 80 kilometer di timur laut Hong Kong. Berdasarkan laporan CCTV, kecepatan angin maksimum mencapai 162 kilometer per jam sehingga menjadikannya topan terkuat yang melanda China sepanjang 2026.
Sementara itu, perkembangan lain datang dari Amerika Serikat. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut dana perang yang telah dikeluarkan untuk Iran mencapai US$37,5 miliar atau sekitar Rp672 triliun.
Meski anggaran militer terus meningkat dan Presiden Donald Trump disebut melancarkan serangan selama sebelas hari berturut-turut, pengamat menilai Iran belum berhasil ditaklukkan. Bahkan, militer Iran menyatakan telah memasuki fase baru dalam menghadapi konflik dengan Amerika Serikat melalui perubahan strategi peperangan.
