"Jangan mudah takut, jangan mudah percaya, dan jangan pernah berhenti berpikir," kata Darmawan Sepriyossa menutup diskusi laporan Unit 4000 IRGC. Kedubes Iran dan Ahlulbait Indonesia (ABI) membantah isi laporan itu, sedangkan Kementerian Luar Negeri, BIN, dan TNI belum menanggapi.
Iran International melaporkan pada 31 Agustus 2026 bahwa Unit 4000, divisi operasi khusus IRGC, menyusun rencana serangan. Targetnya mencakup Selat Malaka, Selat Bangka, dan Tanjung Priok, di samping dua pelabuhan Tiongkok. Laporan itu juga menyebut tiga WNI diduga direkrut unit tersebut. Kini sejumlah pihak yang terkait menjawab tudingan itu.
Kedubes Iran Sebut Laporan Unit 4000 IRGC Tak Berdasar
Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyampaikan bantahan lewat pernyataan resmi yang dimuat Sindonews pada 25 September 2026. Pihak kedubes menyebut laporan itu tak berdasar dan mustahil diverifikasi.
ABI Tolak Kaitan, Pemerintah Belum Menjawab
Ahlulbait Indonesia (ABI) menempuh jalur hak jawab pada 14 September 2026. Organisasi itu menolak pengaitan ketua umumnya, Zahir Yahya, dan anggota Dewan Syura Abdullah Assegaff dengan Unit 4000. Menurut ABI, laporan tersebut tidak memuat dokumen atau transaksi yang bisa diperiksa secara independen.
Hingga berita ini ditulis, Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Negara (BIN), dan TNI belum memberikan tanggapan resmi. Dian Wirengjurit, mantan Dubes RI untuk Iran, ikut menyuarakan keraguan dalam siniar Madilog pada 3 Oktober 2026.
Sumber Laporan dan Pola Kecurigaan Lama
Dian menyebut Iran International sebagai media oposisi yang, menurut dia, dibiayai AS dan Arab Saudi. Ia mengingatkan klaim senjata pemusnah massal Irak yang tak pernah terbukti. Iran International membantah tudingan semacam itu dan menyatakan dimiliki investor swasta yang tidak terikat pada pemerintah mana pun.
Dian juga menilai pola kecurigaan semacam ini bukan hal baru. Ia mengisahkan penangkapan seorang warga Iran di Bali menjelang Indonesia memegang presidensi G20. Menurut Dian, orang itu hanyalah turis yang menunggak biaya kos. Tak lama kemudian, seorang petinggi meneleponnya dan menyebut orang itu intelijen bayaran Israel.
Menurut Dian, petinggi itu yakin orang tersebut hendak menggagalkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. "Sakit jiwa ini, informasi seperti ini diterima bulat-bulat," kata Dian. Dari situ ia menilai elite Indonesia kurang memahami cara kerja intelijen. Agen sejati, menurut Dian, ditanam bertahun-tahun dan menguasai bahasa setempat. Ia mencontohkan Eli Cohen, agen Israel di Suriah pada 1960-an, dan Takeo Yoshikawa, mata-mata Jepang di Pearl Harbor.
Posisi Indonesia di Tengah Isu Ancaman
Soal posisi Indonesia, Dian menyebut Pertamina pernah membeli elpiji dari Iran. Pengiriman terhenti setelah AS menegur. India dan Singapura, katanya, tetap menemukan celah. Kerawanan di dalam negeri, menurut dia, membuat Indonesia mudah disasar propaganda. Isu ancaman dari luar pun bisa mengalihkan perhatian dari persoalan domestik.
Darmawan Sepriyossa menutup diskusi dengan pengingat bahwa tidak setiap tuduhan terhadap Iran adalah propaganda, dan tidak setiap kabar tentang Iran adalah kebenaran. Di tengah bantahan dan belum adanya tanggapan pemerintah, laporan itu masih menyisakan pertanyaan bagi publik. Bagi pembaca di Indonesia, pesan itu mengajak menimbang informasi dengan kepala dingin.