Mancanegara

Netanyahu Hebron: Operasi Militer Besar Usai 2 Tentara Tewas

Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel
Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam menggelar operasi militer skala besar di Hebron, Tepi Barat, pada Jumat (23/10/2026). Ancaman ini muncul setelah dua tentara Israel tewas ditembak di sebuah pos pemeriksaan jelang pemilu Israel.

Suasana masih mencekam di sekitar pos pemeriksaan utara Hebron, lokasi baku tembak pagi itu. Dua pria bersenjata asal Palestina melepaskan tembakan ke arah tentara Israel yang tengah berjaga. Pasukan membalas tembakan hingga kedua penyerang tewas di tempat. "Kami akan mengevakuasi penduduk, kami akan menyisir dari rumah ke rumah," kata Netanyahu, sebagaimana disampaikan kantornya, usai mengunjungi lokasi kejadian.

Kronologi Serangan di Pos Pemeriksaan Hebron

Menurut laporan AFP, Jumat (23/10/2026), serangan tersebut menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga lainnya. CBS News melaporkan korban tewas adalah Staf Sersan Ron Yonatan Roytman dan Sersan Yuval Shai Svilem. Roytman merupakan komandan regu berusia 23 tahun asal Ashkelon. Ia bertugas di Batalion Ari saat insiden terjadi.

Kedua pelaku tiba dengan kendaraan berpelat nomor Israel. Mereka membawa senapan M16 dan sepucuk pistol. CNN melaporkan militer Israel langsung memberlakukan pengepungan penuh atas Kota Hebron usai insiden itu. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober 2026. Netanyahu sendiri tengah menghadapi persaingan politik yang ketat dalam kontestasi tersebut.

Netanyahu Hebron: Operasi Militer Skala Besar Disiapkan

Dalam kunjungannya ke Hebron, Netanyahu menegaskan pasukan akan memasuki lingkungan tempat tinggal pelaku serangan. Ia berjanji memindahkan paksa penduduk di kawasan tersebut. "Kami juga akan menyita senjata-senjata yang ada di sana, serta menghancurkan seluruh infrastruktur teroris," ujar Netanyahu.

Menteri Pertahanan Israel bersama Netanyahu disebut tengah mempertimbangkan operasi militer berskala sangat luas di Tepi Barat. Netanyahu menyebut skala operasi ini belum pernah terjadi sejak Perang Enam Hari pada 1967. "IDF siap melaksanakannya dan kami akan menentukan waktunya, tetapi operasi ini pasti akan dilakukan," tambahnya. Pihak militer juga telah memulai penghancuran bangunan di kawasan Farsh al-Hawa, Hebron, pada hari yang sama.

Model "Tembok Besi" Akan Diterapkan Ulang di Hebron

Netanyahu menyebut militer akan menerapkan pola yang sebelumnya dipakai di kamp-kamp pengungsi utara Tepi Barat. Operasi berjuluk Tembok Besi atau Iron Wall itu diluncurkan sejak Januari 2025. Menurut kantor hak asasi manusia PBB, operasi tersebut telah memaksa puluhan ribu warga pindah dari sejumlah kamp pengungsi.

Hingga Juli tahun ini, sebanyak 33.362 pengungsi Palestina dari tiga kamp tersebut belum diizinkan kembali ke rumah mereka. Militer Israel juga masih bertahan di kamp pengungsi Jenin hingga kini. Dua kamp pengungsi lain di Kota Tulkarem turut diduduki pasukan Israel dalam waktu lama. Di sana, militer menghancurkan puluhan rumah di kawasan padat penduduk demi mempermudah akses kendaraan lapis baja.

Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan pola serupa akan berlaku di Hebron. "Setiap lingkungan berbasis klan di Hebron, tempat asal para pelaku serangan hari ini, akan dikosongkan dari penduduknya. Infrastruktur teror di lingkungan tersebut akan ditangani dan dibongkar," tulis Katz melalui platform X, merujuk pada keluarga besar yang berpengaruh kuat di Hebron.

Dampak bagi Warga dan Ketegangan Jelang Pemilu

Ancaman operasi militer besar ini menambah ketegangan di Tepi Barat jelang pemilu Israel. Ribuan warga Hebron kini menghadapi ketidakpastian atas rencana evakuasi paksa tersebut. Pengalaman warga Jenin dan Tulkarem sebelumnya menjadi bayang-bayang kekhawatiran bagi keluarga di Hebron saat ini.

Militer juga mengerahkan lebih banyak personel ke kawasan tersebut sejak insiden pos pemeriksaan terjadi. Situasi ini menambah tekanan politik bagi Netanyahu di tengah kampanye pemilu yang sedang berlangsung. Dunia internasional turut memantau perkembangan terbaru di kawasan konflik tersebut.