pendapatan kelas menengah turun, sinar jiwaMenkeu Purbaya ungkap pendapatan kelas menengah turun akibat pertumbuhan ekonomi lambat. Pemerintah kejar percepatan pertumbuhan untuk atasi masalah ini.

Pendapatan kelas menengah turun jadi sorotan utama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam forum ekonom nasional di Jakarta. Ia menilai pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah 5 persen menjadi biang keroknya.

Pendapatan kelas menengah turun menjadi keluhan yang diungkap langsung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Pernyataan ini disampaikan dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, kondisi ini tidak lepas dari pertumbuhan ekonomi nasional yang masih tertahan di bawah 5 persen dalam beberapa waktu terakhir. Akibatnya, tekanan merembet ke berbagai sektor, termasuk industri dan pasar tenaga kerja.

Penyebab Pendapatan Kelas Menengah Tertekan

Purbaya menjelaskan, pertumbuhan yang rendah turut memicu proses deindustrialisasi di dalam negeri. Ketika aktivitas industri melemah, daya serap sektor formal terhadap tenaga kerja baru pun ikut terbatas.

Dampaknya jelas terasa pada kelompok kelas menengah. Lapangan kerja formal yang minim membuat pendapatan mereka sulit terdongkrak.

“Kelas menengah pendapatannya turun. Ya itulah makanya kita ciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat,” kata Purbaya, dikutip dari Kompas.com.

Percepatan Pertumbuhan Jadi Solusi Pemerintah

Oleh sebab itu, pemerintah berupaya mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi secara bertahap. Purbaya menegaskan dukungannya terhadap target pertumbuhan 8 persen yang sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, pertumbuhan di atas 6 persen menjadi kunci penting untuk membuka lebih banyak lapangan kerja formal. Dengan begitu, pendapatan kelas menengah diharapkan ikut terangkat.

Nanti pelan-pelan lapangan kerja formal kalau tercipta, kalau kita tumbuh lebih cepat dari 6, lapangan kerja tercipta, itu pendapatan masyarakat menengah meningkat, tercipta masyarakat menengah baru,” ujarnya.

Harapan dalam Satu Hingga Dua Tahun

Purbaya menyebut proses pemulihan ini membutuhkan waktu. Ia berharap jumlah masyarakat kelas menengah bisa kembali tumbuh dalam satu hingga dua tahun ke depan seiring pemulihan sektor industri.

Jadi ke depan mungkin setahun, dua tahun kita akan harapkan masyarakat menengah kita semakin tumbuh lagi,” ujarnya.

Kendati demikian, pemerintah tetap mengalokasikan anggaran besar untuk masyarakat yang membutuhkan, termasuk subsidi BBM senilai lebih dari Rp500 triliun dan subsidi non-BBM sekitar Rp540 triliun. Meski begitu, Purbaya mengakui kelas menengah belum banyak tersentuh dari alokasi tersebut.