Di Balik Angka 5,39%, Konsumsi Rumah Tangga Dorong Ekonomi Indonesia

konsumsi rumah tangga

sinarjiwa.id – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen (yoy), menjadi capaian tertinggi sejak pandemi COVID-19. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa di balik angka tersebut, konsumsi rumah tangga kembali memainkan peran sentral sebagai penggerak utama ekonomi nasional. Kontribusinya bukan sekadar dominan, tetapi menentukan arah laju pertumbuhan pada akhir tahun.

Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 0,86 persen, sementara secara kumulatif sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan tercatat Rp13.580,5 triliun. Gambaran besarnya jelas: aktivitas ekonomi masyarakat kembali menjadi poros.

Konsumsi Rumah Tangga sebagai Mesin Pertumbuhan

BPS mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11 persen pada triwulan IV 2025. Angka ini menjadikannya sumber pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran, dengan kontribusi langsung sebesar 2,68 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga :  Ekonomi 2025: Tahun Negara Menahan Laju, Menata Arah

Konsumsi rumah tangga ini kan share-nya terhadap PDB pengeluaran mencapai 53,63 persen. Jadi ini yang menjadi driver pertama dari sisi pengeluaran,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.

Dalam praktiknya, konsumsi masyarakat mencerminkan denyut aktivitas sehari-hari: belanja kebutuhan pokok, jasa transportasi, hingga layanan pendukung rumah tangga. Dampaknya terasa luas, menetes ke berbagai sektor ekonomi.

Peran Belanja Sosial dan Daya Beli

Bersamaan dengan itu, belanja pemerintah melalui berbagai bantuan sosial di akhir tahun ikut memperkuat konsumsi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa dorongan fiskal tersebut berujung pada peningkatan belanja masyarakat.

Pemerintah menggelontorkan fiskal ya, bantuan sosial, dan terlihat konsumsi juga meningkat,” kata dia.

Efek langsungnya terlihat pada sektor-sektor riil yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Industri, perdagangan, dan pertanian tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga :  Sentuhan Harapan Purbaya di Tengah Badai Penilaian Fitch Ratings
pertumbuhan ekonomi nasional
pertumbuhan ekonomi nasional

Lapangan Usaha Mengikuti Gerak Konsumsi

Secara faktual, hampir seluruh lapangan usaha mencatat pertumbuhan positif. Transportasi dan pergudangan tumbuh 8,98 persen, sementara jasa lainnya mencapai 8,71 persen. Industri pengolahan, yang menjadi tulang punggung ekonomi, tumbuh 5,40 persen dan menyumbang kontribusi terbesar terhadap PDB.

Yang menarik, sektor-sektor tersebut memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas konsumsi masyarakat. Mobilitas meningkat. Permintaan jasa menguat. Produksi ikut terdorong.

Dari Aktivitas Harian ke Angka Makro

BPS juga mencatat program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menciptakan aktivitas ekonomi baru. Program ini memberi nilai tambah pada sektor penyediaan makanan dan minuman, yang secara langsung berhubungan dengan konsumsi rumah tangga.

Seluruh aktivitas ekonomi yang tercipta akibat program makan bergizi gratis dicatat dalam pertumbuhan ekonomi,” ujar Amalia.

Pada titik ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 menunjukkan bahwa angka makro tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari keputusan belanja jutaan rumah tangga, dari pasar tradisional hingga pusat distribusi. Konsumsi menjadi wajah paling nyata dari pergerakan ekonomi nasional.

Baca Juga :  Danantara Mulai Hilirisasi Ayam Rp20 Triliun, Harapan Baru Peternak Rakyat