sinarjiwa.id — Ekonomi bukan sekadar deretan angka di atas kertas, melainkan napas kehidupan bagi jutaan rakyat Indonesia. Di tengah sorotan tajam dunia internasional, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berdiri tegak memikul amanah besar untuk mewujudkan impian pertumbuhan 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo. Namun, jalan terjal menghadang ketika Fitch Ratings secara resmi menurunkan outlook utang Indonesia menjadi negatif pada Rabu (4/3/2026). Keputusan ini membawa awan mendung bagi pasar keuangan, namun bagi Purbaya, ini adalah panggilan untuk membuktikan cinta dan kerja kerasnya bagi tanah air.
“Mungkin kan masih pemerintahan baru dan Menteri Keuangan juga baru, jadi mereka sangka jangan-jangan Menteri Keuangan nggak bisa hitung. Jadi itu salah saya juga karena saya nggak pernah ke luar negeri,” ungkap Purbaya dengan nada rendah hati namun penuh tekad saat konferensi pers di Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).
Antara Logika Pasar dan Kebutuhan Rakyat
Kekhawatiran Fitch berakar pada perubahan gaya kepemimpinan fiskal yang kini lebih berani dan terpusat. Program kemanusiaan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan memperbaiki gizi anak-anak bangsa, dipandang oleh lembaga internasional tersebut sebagai risiko yang dapat memperlebar defisit anggaran. Fitch memproyeksikan defisit fiskal 2026 akan menyentuh 2,9 persen, sedikit melampaui ambisi pemerintah. Meski demikian, Purbaya dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa pemerintah siap melakukan penyesuaian belanja, termasuk penghematan hingga Rp100 triliun, demi menjaga kehormatan fiskal bangsa tanpa mengabaikan mereka yang membutuhkan.
Sentuhan personal Purbaya dalam mengelola ekonomi sering kali dianggap tidak konvensional. Ia tidak ragu untuk berbicara apa adanya, bahkan menyentil lembaga pemeringkat agar lebih cerdas dalam menggunakan data. Baginya, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tertinggi di G20 adalah bukti nyata yang tidak bisa dibantah oleh narasi negatif apa pun. Ketegasan ini muncul dari keinginan mendalam untuk melihat Indonesia mandiri dan tidak lagi dipandang sebelah mata oleh kekuatan ekonomi global.
Menjemput Kepercayaan di Washington
Memahami bahwa diplomasi adalah jembatan hati, Purbaya memutuskan untuk mengubah strateginya. Pada April mendatang, ia akan melangkah ke Washington DC untuk menghadiri pertemuan IMF-World Bank. Kunjungan ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan misi untuk menceritakan kisah sukses ekonomi Indonesia yang sebenarnya kepada dunia. Ia ingin meyakinkan para investor bahwa di balik sentralisasi kebijakan, ada efisiensi dan semangat untuk melompat lebih tinggi demi masa depan generasi mendatang.
Harapan itu tetap menyala di tengah fluktuasi IHSG dan pelemahan rupiah yang sempat mendekati level Rp17.000. Purbaya memberikan janji yang tulus: dalam enam bulan, hasil nyata dari kebijakan pro-rakyat ini akan terlihat. Jika arahnya salah, ia siap menerima kritik terpahit sekalipun. Namun, selama detak jantung ekonomi rakyat masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat melalui penerimaan pajak yang melonjak 30 persen, Purbaya akan terus berjuang memastikan bahwa setiap rupiah dikelola dengan penuh tanggung jawab dan rasa kemanusiaan. ***
