pengungsi gempa NTTPengungsi gempa NTT yang meninggal tercatat 94 orang menurut BNPB, sebagian besar lansia dengan penyakit kronis seperti stroke dan diabetes.

Pengungsi gempa NTT yang meninggal dunia tercatat 94 orang menurut BNPB, dan sebagian besar berusia lanjut dengan penyakit kronis. Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta evaluasi menyeluruh terhadap perlindungan dan layanan kesehatan di pengungsian.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan 94 warga meninggal dunia saat berada di pengungsian setelah gempa NTT. Angka itu dikategorikan sebagai korban meninggal secara tidak langsung. Adapun korban meninggal akibat dampak langsung gempa tercatat 48 orang, sehingga total korban meninggal terkait bencana tersebut mencapai 142 orang.

Berdasarkan hasil verifikasi BNPB dan Kementerian Kesehatan, sebagian besar dari 94 korban di pengungsian merupakan lanjut usia dengan penyakit kronis. Penyakit yang disebut antara lain stroke dan diabetes melitus. Temuan ini memunculkan pertanyaan tentang kesiapan layanan kesehatan bagi kelompok rentan di lokasi pengungsian.

DPR Minta Evaluasi Layanan Kesehatan di Pengungsian

Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta evaluasi menyeluruh terhadap perlindungan dan pelayanan kesehatan bagi warga selama berada di pengungsian pascagempa Flores. Ia menilai kondisi tersebut perlu dijadikan bahan evaluasi untuk melihat apakah ada kematian yang sebenarnya dapat dicegah.

Menurut Hetifah, evaluasi itu perlu mencakup ketersediaan obat, layanan kesehatan, dan perlindungan bagi kelompok rentan. Lansia dengan penyakit kronis membutuhkan pemantauan dan pengobatan yang berkelanjutan, sehingga ketersediaan obat dan tenaga kesehatan di pengungsian menjadi faktor penting.

Tanggapan Mendagri soal Kematian di Pengungsian

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian turut menanggapi laporan tersebut di Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Rabu (30/9). Ia mengatakan penyebab kematian perlu diperiksa lebih dulu untuk mengetahui apakah berkaitan dengan kondisi kesehatan, usia, atau faktor lain selama masa pengungsian.

Tito belum dapat memastikan apakah ada korban yang meninggal akibat minimnya penanganan atau keterbatasan akses layanan kesehatan. “Saya akan cek ini sebelum saya jawab, daripada saya ngarang-ngarang jawab,” katanya. Ia menyebut penanganan pengungsi saat ini dikoordinasikan BNPB bersama Menko PMK Pratikno, dengan keterlibatan Kementerian Kesehatan.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penanganan yang kurang layak, menurut Tito, pemerintah daerah harus melakukan evaluasi dan memanfaatkan anggaran yang tersedia. Pemerintah telah menyiapkan tambahan belanja tak terduga Rp20 miliar untuk setiap kabupaten/kota terdampak dan Rp40 miliar untuk pemerintah provinsi.

Wilayah Terdampak Gempa Magnitudo 7,7

Gempa yang memicu pengungsian ini terjadi pada Agustus lalu dengan magnitudo 7,7. Tujuh kabupaten tercatat terdampak, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ende, Ngada, Sikka, dan Flores Timur. Data BNPB per 27 September 2026 mencatat jumlah rumah rusak berat, sedang, dan ringan yang terverifikasi sementara di NTT mencapai 44.767 unit, sehingga banyak keluarga masih bergantung pada hunian sementara.

Pada akhirnya, kasus pengungsi gempa NTT yang meninggal ini menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada distribusi bantuan. Pemeriksaan penyebab kematian, penguatan layanan kesehatan, dan perlindungan kelompok rentan perlu berjalan bersamaan agar kematian yang sebenarnya bisa dicegah tidak terulang.