Wamenag respons bom rakitan MAN 3 PadangWamenag respons bom rakitan MAN 3 Padang dengan menyoroti dugaan bullying, faktor psikologis, pembentukan Satgas, serta pendampingan.

Wamenag merespons kasus bom rakitan di MAN 3 Padang dengan meminta semua pihak menunggu hasil penyelidikan. Ia menyoroti dugaan faktor psikologis akibat bullying serta pentingnya pendampingan bagi korban dan pelaku.

Wamenag respons bom rakitan MAN 3 Padang dengan menegaskan pemerintah tidak ingin terburu-buru menarik kesimpulan atas peristiwa tersebut. Wakil Menteri Agama Romo R. Muhammad Syafi’i meminta seluruh pihak menunggu hasil penyelidikan resmi yang masih berlangsung.

Pernyataan itu disampaikan Syafi’i saat berada di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7). Menurutnya, pengalaman pada kasus serupa di SMAN 72 menunjukkan tindakan pelaku lebih dipengaruhi persoalan psikologis daripada faktor lain.

Ada persoalan-persoalan psikologi yang dialami oleh pelaku sehingga kemudian dia nekat melakukan tindakan seperti itu,” kata Syafi’i.

Ia menduga kondisi yang hampir serupa juga dapat menjadi salah satu faktor dalam kasus ledakan bom rakitan di MAN 3 Balai Gadang, Koto Tengah, Padang, Sumatera Barat. Karena itu, ia menilai persoalan tersebut menjadi perhatian bersama.

Pemerintah Siapkan Satgas Cegah Bullying di Lingkungan Pendidikan

Syafi’i menjelaskan sejumlah kementerian di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) telah menyepakati pembentukan satuan tugas untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak. Langkah itu mencakup sekolah, ruang publik, hingga ruang digital.

Menurutnya, Satgas akan berfokus pada pencegahan perundungan sekaligus memberikan pendampingan kepada korban bullying. Apabila perkara telah memasuki ranah hukum, pemerintah juga akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menangani pelaku sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain itu, Syafi’i mengatakan Satgas akan bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Pendampingan tidak hanya diberikan kepada korban yang enggan melapor, tetapi juga kepada pelaku agar dapat mengungkap seluruh pengalaman yang dialaminya.

Sementara itu, Polda Sumatera Barat telah mengamankan pelajar berinisial R yang diduga sebagai pemilik bom rakitan yang meledak di MAN 3 Padang. Polisi menyebut dugaan sementara menunjukkan aksi tersebut dipicu perundungan yang kerap dialami pelaku di sekolah.

Di sisi lain, Juru Bicara Densus 88 Kombes Mayndra Eka Wardhana menyatakan pelaku mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak melalui internet dan terinspirasi oleh peristiwa serupa di SMAN 72 Jakarta pada 2025. Meski begitu, motif tersebut masih dalam proses pendalaman oleh tim penyelidik.