sinarjiwa.id – Peringatan dini dari BMKG menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Jawa Timur pada Senin (16/2/2026) siang. Kondisi ini dapat disertai kilat, petir, serta angin kencang hingga pukul 15:00 WIB. Artinya, perjalanan antarkota dan aktivitas luar ruang berisiko mengalami gangguan cuaca dalam rentang waktu tersebut.
Situasi ini terjadi ketika sebagian wilayah Jawa Timur masih berada pada fase puncak musim hujan. Dalam praktiknya, peningkatan curah hujan berkaitan dengan dinamika atmosfer regional yang sedang aktif. Dampaknya terasa pada mobilitas warga serta potensi bencana hidrometeorologi di daerah rawan banjir dan longsor.
Peringatan Siang Hari Meluas ke Berbagai Wilayah
BMKG mencatat hujan lebat lebih dulu berpotensi terjadi di Kabupaten Probolinggo, terutama Sukapura, Kuripan, dan Lumbang. Sementara itu, kondisi serupa diperkirakan meluas ke Lumajang, Banyuwangi, Bondowoso, Pasuruan, hingga Kota Probolinggo.
Di sisi lain, perluasan wilayah hujan menunjukkan pertumbuhan awan konvektif yang masih aktif pada siang hingga sore. Dengan kata lain, perubahan cuaca dapat berlangsung cepat dalam waktu singkat. Hal ini yang kerap luput diperhatikan ketika masyarakat tetap beraktivitas normal di luar ruangan.
Dampak Langsung bagi Perjalanan dan Aktivitas Warga
Dalam realitas di lapangan, hujan lebat dapat menurunkan jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin. Efek langsungnya meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas serta potensi pohon tumbang. Tak hanya itu, wilayah bertopografi curam menghadapi ancaman longsor dan genangan lokal.
Karena itu, pemantauan informasi cuaca terkini menjadi langkah penting sebelum bepergian. Secara faktual, cuaca ekstrem jangka pendek dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika atmosfer.
Faktor Atmosfer Perkuat Potensi Hujan Lebat
BMKG menjelaskan peningkatan hujan dipengaruhi aktifnya Monsun Asia, gangguan gelombang atmosfer, serta suhu muka laut yang hangat. Kombinasi faktor tersebut mempercepat pembentukan awan konvektif di wilayah Jawa Timur.
“Dalam 10 hari ke depan diprakirakan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak pada aktivitas masyarakat. Kami mengimbau agar masyarakat waspada terhadap hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” ujar Kepala Stasiun Meteorologi Juanda Taufiq Hermawan.
Lebih jauh, potensi hujan lebat diperkirakan masih berlanjut hingga 20 Februari 2026. Imbasnya mengarah pada peningkatan risiko banjir, longsor, serta gangguan transportasi di berbagai daerah. Suhu udara berkisar 17°C hingga 31°C dengan kelembapan mencapai 95 persen, sementara angin baratan berkecepatan sekitar 14 km per jam turut mendukung pembentukan awan hujan.
