sinarjiwa.id — Di Surabaya dini hari, Ahad (23/11/2025), suasana kebatinan PBNU diuji. Ketua Umum Gus Yahya berdiri teguh, menolak desakan mundur dari Rapat Harian Syuriyah. “Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur,” katanya—pernyataan yang mencerminkan keteguhan psikologis seorang pemimpin di tengah tekanan internal.
Ia mengingatkan mandat lima tahun yang diberikan Muktamar 2021. Mandat, dalam kultur NU, bukan sekadar administrasi, tetapi amanah moral.
Ketidakhadiran Gus Ipul dalam pertemuan PBNU–PWNU sehari sebelumnya memunculkan tanda tanya dan kegelisahan di kalangan kader. Ketidakhadiran itu menambah lapisan emosional dalam konflik yang berkembang.
KH Abdul Muhaimin menyayangkan peredaran dokumen internal Syuriyah. “Masak pembicaraan internal disebar seenaknya,” ujarnya. Ia menilai tindakan itu dapat melukai kepercayaan antarsesama pengurus.
PWNU di berbagai daerah mengekspresikan kegelisahan mereka dengan cara berbeda—dari seruan musyawarah hingga imbauan menjauhi spekulasi. Di tengah turbulensi ini, nilai keteduhan menjadi harapan banyak pihak.
Krisis ini menguji relasi personal, kepercayaan, dan etika kekuasaan di lingkungan NU. (*)
