sinarjiwa.id — Pagi buta di distrik-distrik India pada 12 Februari 2026 tidak lagi dihiasi dengan deru mesin pabrik, melainkan oleh orasi yang bergetar penuh emosi. Jutaan buruh dan petani turun ke jalan dalam aksi “Bharat Bandh“, sebuah gerakan besar yang lahir dari kecemasan akan hilangnya perlindungan atas mata pencaharian mereka akibat kebijakan reformasi tenaga kerja dan perjanjian dagang dengan Amerika Serikat.
Di pinggiran New Delhi, para petani melakukan aksi blokade jalan dengan wajah-wajah letih namun penuh tekad. Mereka mengkhawatirkan masa depan keluarga jika pasar domestik dibanjiri produk impor murah dari AS. Rasa takut akan hilangnya hak mogok dan kemudahan pemecatan dalam aturan baru menjadi beban pikiran bagi 300 juta jiwa yang terlibat dalam aksi ini.
Amarjeet Kaur, Sekretaris Jenderal AITUC, dengan nada emosional menyatakan pada 12 Februari 2026 bahwa aksi ini adalah benteng terakhir mereka. “Ini bukan sekadar mogok kerja, ini adalah pertahanan atas hak-hak yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun,” ujarnya. Bagi para buruh, kode tenaga kerja yang baru bukan sekadar teks hukum, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas dapur mereka.
Demi Masa Depan Petani Lokal
Hannan Mollah, Konvenor Samyukt Kisan Morcha, menyuarakan kepedihan hati para petani dalam konferensi pers di New Delhi pada 11 Februari 2026. Ia menyebut perjanjian dagang dengan AS sebagai pengkhianatan total terhadap keringat petani India. Mollah menegaskan bahwa pemerintah seolah lebih mendengarkan korporasi besar daripada suara rakyat yang bercocok tanam di tanah sendiri.
Meskipun Menteri Perdagangan Piyush Goyal menjamin perlindungan terhadap sektor susu dan biji-bijian dalam pernyataan resminya, ketidakpercayaan publik sudah terlanjur mendalam. Sementara sektor transportasi lumpuh dan perbankan terhenti, layanan esensial seperti ambulans tetap berjalan sebagai bentuk empati kemanusiaan dari para peserta aksi terhadap sesama warga negara yang membutuhkan bantuan medis mendesak. *
