Nestapa Aktivis Komarullah Ditangkap Lagi Sesaat Setelah Hirup Udara Bebas

Aktivis M Ainun Komarullah

sinarjiwa.id — Kebahagiaan Muhammad Ainun Komarullah untuk kembali ke pelukan keluarga sirna dalam hitungan menit saat ia ditangkap kembali di depan Rutan Kebon Waru, Senin (9/3/2026).

Setelah melewati 180 hari di balik jeruji besi, mahasiswa asal Jombang ini melangkah keluar pukul 11.18 WIB dengan harapan baru. Namun, aparat Polrestabes Surabaya sudah menunggu di gerbang untuk membawanya pergi atas kasus serupa yang terjadi di Jawa Timur.

Luka di Balik Jeruji dan Kerinduan yang Tertunda

Komarullah tak sempat memeluk orang tuanya yang telah menunggu lama untuk membawanya pulang ke kampung halaman. Dalam kondisi fisik dan mental yang tampak sangat rapuh, ia harus merelakan mimpinya merayakan Idulfitri bersama keluarga tahun ini.

Penangkapan tanpa jeda ini memicu keprihatinan mendalam mengenai sisi kemanusiaan dalam penegakan hukum kita. “Sampai kapan negara mau menghukum aku? Aku bukan siapa-siapa, aku juga nggak punya apa-apa,” lirih Komarullah dalam sebuah rekaman wawancara yang diunggah LBH Bandung pada hari penangkapannya.

Baca Juga :  Teror Membungkam Suara Kritis Bencana, Aktivis Sumatera Alami Intimidasi

Suara Keadilan dari Sanubari Bangsa

Pihak Amnesty International Indonesia menilai tindakan ini sebagai bentuk luka bagi rasa keadilan masyarakat yang mendambakan perlindungan. Hukum seharusnya hadir untuk membimbing, bukan untuk terus-menerus memojokkan jiwa yang sudah menjalani masa hukumannya dengan patuh.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, pada 9 Maret 2026 menyatakan bahwa hukum harus tetap menjadi pelindung martabat manusia. “Hukum sejatinya adalah pelindung martabat manusia, bukan alat negara untuk melanggengkan pembungkaman,” tegas Usman dengan nada penuh empati.

Kini, Komarullah menempuh perjalanan jauh menuju Surabaya di bawah pengawalan ketat kepolisian untuk menghadapi proses hukum berikutnya. Publik hanya bisa berharap agar nurani para penegak hukum tetap terbuka melihat kondisi psikologis pemuda yang kini berada di titik nadir kelelahannya.***