Sinar Jiwa – KDMP atau Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Wonogiri disiapkan untuk peluncuran nasional pada 18 Mei 2026. Program ini diarahkan menjadi penggerak ekonomi desa dengan memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki setiap wilayah.
Bagaimana Kesiapan KDMP Wonogiri Menjelang Peluncuran?
Secara faktual, Komando Distrik Militer (Kodim) 0728/Wonogiri mencatat ada 177 titik KDMP yang telah dipersiapkan. Seluruh titik ini ditargetkan siap beroperasi setelah peluncuran resmi oleh Presiden.
Dandim 0728/Wonogiri, Letkol Inf Rodricho Ivan Pattihahuan, menyebut koordinasi lintas sektor masih terus dilakukan. Langkah ini bertujuan memastikan seluruh aspek teknis berjalan optimal.
“Tugas kami sekarang koordinasi dengan Agrinas, supaya hal-hal yang terkait KDKMP bisa disosialisasikan,” ujarnya.
Dalam konteks ini, kesiapan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyangkut pemahaman masyarakat terhadap fungsi koperasi.
Fokus KDMP pada Potensi Lokal Desa
Yang menjadi titik tekan program KDMP adalah penguatan ekonomi berbasis potensi desa. Setiap koperasi diberikan keleluasaan untuk menentukan jenis usaha sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Unit Usaha Disesuaikan dengan Kebutuhan Desa
Menurut Rodricho, sektor seperti pertanian dan usaha pedesaan menjadi fokus utama. Selain itu, distribusi kebutuhan seperti gas dan pupuk juga dapat dikelola oleh koperasi.
“Potensi yang ada di desa seperti pertanian atau usaha di pedesaan bisa dikelola koperasi. Gas, pupuk bisa,” jelasnya.

Dalam praktiknya, pendekatan ini bertujuan agar setiap desa memiliki model ekonomi yang relevan dengan kondisi lokal.
Posisi KDMP terhadap Usaha Masyarakat
Di sisi lain, muncul kekhawatiran terkait dampak koperasi terhadap usaha yang sudah berjalan. Namun, pihak Kodim menegaskan bahwa KDMP tidak akan mematikan usaha kecil.
Sebaliknya, koperasi justru dirancang untuk menjadi wadah distribusi dan penguatan usaha masyarakat.
“Justru dari koperasi itu nanti bisa mewadahi usaha (menerima barang) dari masyarakat,” katanya.
Artinya, koperasi berperan sebagai penghubung antara produksi masyarakat dan distribusi yang lebih luas.
Peran KDMP dalam Menekan Permainan Harga
Yang kerap luput diperhatikan adalah peran koperasi dalam rantai distribusi. Berdasarkan kajian yang dilakukan Rodricho saat pendidikan di Sesko TNI, ditemukan adanya praktik permainan harga oleh tengkulak.
Kondisi ini terutama terjadi pada komoditas beras, yang berdampak pada selisih harga antara petani dan konsumen.
“Dari situ ditemukan bahwa harga beras dimainkan oleh tengkulak. Dengan adanya KDMP, harapannya harga beli dari petani ke masyarakat tidak terlalu jauh,” ungkapnya.
Dalam sudut pandang ini, KDMP diharapkan menjadi instrumen untuk memperpendek rantai distribusi.
Koperasi tetap menjalankan mekanisme keuntungan. Namun, hasilnya diarahkan kembali ke masyarakat desa sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal.
“Meskipun koperasi juga mencari keuntungan, hasilnya kembali ke masyarakat,” pungkasnya.
