Uwi, Pangan yang Pernah Menjaga Dapur Jawa

Uwi - (Dioscorea alata)

sinarjiwa.id — Sebelum nasi menjadi pusat kehidupan, masyarakat Jawa pernah bertahan dari uwi dan umbi-umbian yang tumbuh di ladang kering, kebun, dan tegalan. Umbi itu dulu hadir di dapur-dapur desa, menjadi sumber energi sekaligus bagian dari keseharian yang kini nyaris hilang dari ingatan.

Di banyak desa Jawa hari ini, uwi lebih sering dianggap tanaman liar. Anak-anak tak lagi mengenal rasanya, apalagi cara mengolahnya. Padahal, sejarah mencatat uwi pernah menjadi pangan utama sebelum sistem sawah dan kebijakan beras mengubah arah konsumsi masyarakat.

Kajian etnohistori dan arkeologi menunjukkan bahwa sebelum abad ke-8 M, masyarakat Jawa hidup dari diversifikasi pangan. Uwi, gembili, gadung, suweg, dan talas menjadi sumber karbohidrat utama yang tidak bergantung pada irigasi besar. Sistem ini membuat masyarakat relatif tangguh menghadapi cuaca ekstrem dan perubahan musim.

Baca Juga :  Mengapa Uwi Kembali Penting bagi Pangan Indonesia

Perubahan mulai terasa ketika kerajaan agraris berkembang. Sawah irigasi meluas pada masa Mataram Kuno hingga Majapahit. Namun beras saat itu belum menjadi makanan harian semua orang. Prasasti agraria menunjukkan beras lebih sering digunakan untuk upeti, ritual, dan konsumsi kalangan elite.

Pergeseran paling tajam terjadi pada abad ke-19 saat penjajahan Belanda menata ulang pertanian Jawa. Padi diposisikan sebagai komoditas strategis, sementara umbi-umbian tersingkir dari sistem produksi. Kebijakan penjajahan turut membentuk stigma sosial: makan umbi dianggap tertinggal, sementara nasi dipromosikan sebagai simbol kemajuan.

Setelah kemerdekaan, kebijakan pangan nasional melanjutkan orientasi beras. Program swasembada memperkuat monokultur dan menggeser umbi-umbian dari kebijakan maupun pendidikan pangan.

Di sisi lain, dunia tidak meninggalkan uwi. Di Afrika Barat dan Asia Timur, umbi ini dibudidayakan serius sebagai pangan pokok dan bahan industri. Kontras ini memperlihatkan bahwa hilangnya uwi di Jawa bukan semata perubahan selera, melainkan hasil kebijakan panjang.

Baca Juga :  Uwi Bukan Ubi, Kekeliruan Istilah Menghapus Jejak Pangan Lokal

Hilangnya uwi berarti hilangnya pengetahuan dan ingatan kolektif. Di tengah krisis iklim dan tekanan pangan global, kisah uwi mengingatkan bahwa ketahanan pangan Jawa pernah dibangun dari keragaman yang kini terlupakan.***