Update bruxism menunjukkan kebiasaan menggemeretakkan gigi saat tidur sering tidak disadari. Keluhan setelah bangun dapat menjadi petunjuk awal.
Update bruxism menunjukkan kebiasaan menggemeretakkan atau mengatupkan gigi saat tidur tidak selalu diketahui penderitanya. Keluhan setelah bangun justru dapat menjadi petunjuk awal.
Kondisi ini dikenal sebagai bruxism. Kebiasaan tersebut dapat terjadi saat terjaga maupun ketika seseorang tidur.
Namun, bruxism saat tidur sering luput dari perhatian. Penderitanya tidak mengetahui aktivitas rahang yang berlangsung selama tidur.
Keluhan Pagi Bisa Menjadi Petunjuk
Sakit kepala setelah bangun tidur menjadi salah satu keluhan yang perlu diperhatikan. Begitu pula dengan nyeri wajah, rahang pegal, serta sakit di sekitar telinga.
Di sisi lain, kondisi gigi juga dapat memberikan petunjuk. Gigi yang semakin rata, aus, terkelupas, atau sensitif dapat menunjukkan tekanan berulang.
Jika tekanannya berat, gigi bahkan dapat mengalami retak atau patah. Dokter gigi dapat melihat perubahan tersebut melalui pemeriksaan.
Selain pemeriksaan biasa, pemindai tiga dimensi juga dapat membantu melihat kerusakan tertentu. Temuan tersebut dapat memperlihatkan dampak bruxism yang tidak disadari pasien.
Stres dan Pola Tidur Ikut Disorot
Sementara itu, stres menjadi salah satu faktor yang kerap dikaitkan dengan bruxism. Psikoterapis Rahi Popat mengatakan anak muda semakin menyadari hubungan tersebut.
Menurut Popat, stres dan trauma dapat memicu kondisi fight or flight. Respons tersebut meningkatkan detak jantung dan kadar adrenalin.
Pada saat yang sama, otot tubuh ikut menegang, termasuk otot rahang. Artinya, kebiasaan malam hari dapat berkaitan dengan ketegangan sepanjang hari.
Namun, penyebab bruxism tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui stres. Faktor lain juga perlu diperiksa ketika keluhan berlangsung berulang.
Gangguan Napas Saat Tidur Perlu Diperiksa
Yang jadi sorotan berikutnya ialah kemungkinan hubungan dengan obstructive sleep apnoea atau OSA. Kondisi tersebut membuat saluran napas tersumbat ketika seseorang tidur.
Pada situasi tertentu, aktivitas mengatupkan atau menggemeretakkan gigi dapat menjadi respons tubuh. Gerakan tersebut dapat membantu membuka kembali saluran napas.
Karena itu, pemeriksaan perlu mempertimbangkan kondisi tidur jika keluhan muncul berulang. Tidur yang terganggu juga dapat membuat seseorang mudah lelah pada siang hari.
Mouthguard Melindungi Gigi dari Kerusakan
Dalam penanganannya, dokter gigi dapat menyarankan mouthguard untuk melindungi gigi. Alat tersebut membantu mengurangi tekanan dan gesekan selama tidur.
Meski begitu, mouthguard tidak selalu mengatasi penyebab bruxism. Karena itu, evaluasi dokter gigi tetap diperlukan ketika gigi mulai aus, retak, atau sensitif.
Pemeriksaan juga penting jika rahang sering terasa nyeri atau kepala sakit setelah bangun tidur. Pasangan yang mendengar suara gigi bergesekan dapat memberikan informasi tambahan.
Dengan demikian, bruxism perlu dilihat bersama kondisi gigi, rahang, tidur, dan faktor yang mungkin memicunya. Pemeriksaan membantu menentukan masalah yang perlu ditangani lebih lanjut.
