AS-Iran Selat HormuzAS-Iran masih buntu soal Selat Hormuz. Oman menjadi perantara, sementara Iran mempertahankan enam syarat pembukaan jalur pelayaran.

AS-Iran masih buntu dalam diplomasi Selat Hormuz, tetapi pembicaraan teknis melalui Oman terus bergerak. Teheran tetap meminta enam syarat sebelum membuka jalur pelayaran strategis tersebut.

AS-Iran belum menemukan titik temu untuk mengakhiri kebuntuan di Selat Hormuz. Namun, jalur komunikasi tidak sepenuhnya berhenti karena Oman tetap menjadi penghubung kedua pihak.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pembicaraan teknis dengan Oman mengenai pembagian jalur pelayaran baru sudah mendekati tahap akhir.

Meski begitu, Teheran menegaskan tidak menjalin komunikasi langsung dengan Washington. Pertukaran pesan berlangsung melalui perantara.

Enam Syarat Iran Masih Menjadi Titik Tawar

Iran menetapkan enam kondisi sebelum membuka kembali Selat Hormuz. Syarat tersebut mencakup isu keamanan, ekonomi, sanksi, serta kompensasi perang.

  • AS menghentikan ancaman terhadap Iran.
  • Serangan terhadap sekutu Iran dihentikan.
  • Blokade laut diangkat.
  • Iran memperoleh ganti rugi perang.
  • Sanksi terhadap Iran dicabut.
  • Aset Iran yang dibekukan dibebaskan.

Di sisi lain, Washington juga memperkeras tuntutannya. Presiden Donald Trump meminta Iran membayar kerugian akibat aksi militer selama lima dekade.

Trump bahkan memasukkan sejumlah peristiwa masa lalu dalam tuntutannya. Ia meminta pertanggungjawaban Iran atas kerugian dan korban di Lebanon, Suriah, Yaman, serta Gaza.

Harga Minyak Naik Saat Optimisme Menurun

Dampak kebuntuan mulai terlihat di pasar energi. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 5 persen setelah optimisme terhadap perdamaian menurun.

Dengan kata lain, perkembangan diplomasi langsung memengaruhi kekhawatiran terhadap pasokan energi. Selat Hormuz menjadi sangat penting karena jalur itu membawa sekitar seperlima minyak dunia.

Namun, Wakil Presiden AS JD Vance masih melihat peluang tercapainya kesepakatan damai. Ia juga menyebut Iran tidak memiliki rencana memungut tarif penyeberangan di Selat Hormuz.

Sementara itu, analis Negar Mortazavi menilai tuntutan terbaru AS dapat mempersempit ruang kompromi. Menurutnya, persoalan masa lalu bisa menjadi hambatan jika masuk sebagai syarat kesepakatan.

Teheran sendiri membutuhkan jaminan keamanan agar konflik tidak kembali pecah. Selain itu, Iran membutuhkan bantuan pemulihan ekonomi menurut penilaian Mortazavi.

Yang jadi sorotan, kedua pihak kini memakai tuntutan maksimal sebagai bagian dari posisi tawar. Situasi tersebut membuat pembukaan kembali Selat Hormuz tetap bergantung pada perubahan sikap diplomatik.

Dalam konteks tersebut, Oman memegang peran penting sebagai penghubung. Negara itu menjadi jalur komunikasi ketika Washington dan Teheran tidak melakukan perundingan secara langsung.