Selat HormuzSelat Hormuz belum kembali terbuka setelah AS dan Iran saling menuntut ganti rugi. Harga minyak naik lebih dari 5 persen di tengah kebuntuan.

Selat Hormuz kembali menjadi pusat ketegangan setelah negosiasi Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu. Kebuntuan itu langsung mendorong harga minyak mentah naik lebih dari 5 persen.

Selat Hormuz belum kembali terbuka setelah AS dan Iran mengajukan tuntutan baru. Kedua negara kini saling meminta ganti rugi atas kerusakan perang.

Akibatnya, harapan pembukaan jalur energi strategis itu kembali meredup. Kondisi tersebut juga meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.

Selat Hormuz menjadi jalur penting karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut. Karena itu, penutupannya berpotensi memperbesar tekanan inflasi global.

Selat Hormuz Tertutup, AS dan Iran Saling Menuntut

Presiden AS Donald Trump meminta Iran membayar kerugian akibat berbagai aksi militer selama 50 tahun terakhir. Trump menyampaikan tuntutan tersebut kepada wartawan di Gedung Putih.

Selain itu, Trump melalui Truth Social meminta Iran bertanggung jawab atas kerugian dan kematian di Lebanon, Suriah, Yaman, serta Gaza.

Namun, tuntutan tersebut muncul setelah Iran lebih dahulu meminta kompensasi dari AS. Teheran menilai Washington harus membayar kerusakan akibat serangan militer AS dan Israel.

Iran Tetapkan Enam Syarat Pembukaan Jalur

Di sisi lain, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menetapkan enam syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz.

  • Penghentian ancaman Amerika Serikat.
  • Penghentian serangan terhadap sekutu Iran.
  • Pengangkatan blokade laut.
  • Pembayaran ganti rugi perang.
  • Pencabutan sanksi.
  • Pembebasan aset Iran yang dibekukan.

Sementara itu, Iran tetap menolak komunikasi langsung dengan Washington. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut Oman menjadi perantara pertukaran pesan kedua pihak.

Araghchi juga mengatakan pembicaraan teknis mengenai pembagian jalur pelayaran baru bersama Oman memasuki tahap akhir.

Faktanya, kebuntuan diplomasi tersebut sudah berdampak pada pasar energi. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 5 persen ketika harapan terhadap kesepakatan damai menurun.

Menurut analis Negar Mortazavi, kedua pihak tampak mengajukan tuntutan maksimal menjelang negosiasi serius. Ia menilai tuntutan AS mengenai persoalan masa lalu dapat menyulitkan kesepakatan.

Sementara itu, analis Hossein Royvaran menyoroti tekanan perang terhadap masyarakat AS dan Iran. Di AS, tekanan terlihat melalui harga bensin, inflasi, dan biaya hidup.

Di Iran, masyarakat menghadapi tekanan serupa. Namun, Royvaran menyebut masyarakat Iran memiliki narasi bahwa perang tersebut dipaksakan kepada negaranya.