Inflasi Iran menjadi sorotan baru setelah pemerintah mengisyaratkan perubahan harga bensin saat warga menghadapi lonjakan biaya pangan dan kebutuhan harian.
Inflasi Iran menjadi sorotan baru setelah pemerintah mengisyaratkan perubahan harga bensin saat warga menghadapi lonjakan biaya pangan dan kebutuhan harian. Kekhawatiran muncul karena kenaikan BBM berpotensi menambah biaya transportasi.
Data Pusat Statistik Iran mencatat inflasi tahunan mencapai 88 persen. Sementara itu, inflasi bahan pangan melonjak hingga lebih dari 128 persen.
Seorang pekerja ritel di Teheran barat, Mostafa, mengkritik cara pemerintah membandingkan harga BBM Iran dengan negara lain. Menurutnya, perbandingan itu tidak mencerminkan pendapatan masyarakat.
Mostafa menilai penghasilan warga Iran tidak sebanding dengan biaya hidup yang mereka hadapi. Karena itu, wacana kenaikan harga BBM memunculkan kekhawatiran tambahan.
Inflasi Iran Bertemu Tekanan Nilai Tukar
Di sisi lain, tekanan harga berlangsung ketika rial Iran mencatat pelemahan ekstrem. Nilainya mencapai 2 juta rial untuk satu dollar AS di pasar bebas Teheran.
Situasi tersebut muncul setelah Donald Trump mengancam operasi sanksi ekonomi skala besar. Iran juga menghadapi blokade AS dan eskalasi konflik militer.
IMF kemudian memproyeksikan PDB Iran menyusut 5,4 persen sepanjang 2026. Kondisi itu mempersempit ruang pemerintah untuk mempertahankan subsidi energi.
Skema BBM Iran Mulai Mengarah ke Perubahan Bertahap
Dalam perkembangan berikutnya, Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad-Reza Aref mengisyaratkan liberalisasi harga bertahap. Pemerintah tetap mempertahankan kuota termurah 60 liter.
Namun, pemerintah dapat mengurangi kuota kedua secara bertahap. Selanjutnya, harga dapat bergerak menuju tingkat keekonomian secara transparan.
Aref juga menyatakan penghematan subsidi dapat dialokasikan kepada kelompok masyarakat rentan. Langkah tersebut menjadi bagian dari skema yang sedang dipertimbangkan pemerintah.
Sementara itu, Esmail Saghab-Esfahani menyebut dua pilihan lain. Pemerintah dapat mempertahankan harga sambil membatasi stok harian di SPBU.
Pilihan lainnya memberikan 30 liter bensin bersubsidi per bulan kepada seluruh warga. Kuota itu juga dapat diperjualbelikan, termasuk oleh warga yang tidak memiliki kendaraan.
Yang patut dicatat, biaya produksi bensin mencapai 1,3 juta rial per liter. Harga termurah bagi konsumen hanya 15.000 rial.
Akibatnya, pemerintah menghadapi selisih biaya yang besar. Pemerintah sebelumnya merespons tekanan tersebut melalui peningkatan produksi kilang dan penggunaan produk petrokimia.
Namun, masyarakat kini mencermati dampak langsung terhadap harga kebutuhan sehari-hari. Kenaikan BBM berpotensi memengaruhi transportasi serta biaya logistik barang pokok.
