Bara di Selat Hormuz, Beban Baru bagi Dapur Rakyat Indonesia

Harga Minyak Mentah

sinarjiwa.id — Ketegangan di Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar berita mancanegara, melainkan beban nyata yang mulai menyentuh dapur keluarga di Indonesia seiring melonjaknya harga minyak mentah dunia.

Eskalasi militer di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah mengirimkan gelombang kekhawatiran ke seluruh penjuru dunia. Sejak penutupan Selat Hormuz pada 1 Maret 2026, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat hingga US$81,05 per barel. Angka ini bukan sekadar statistik di layar bursa, melainkan sinyal peringatan bagi negara importir seperti Indonesia. Serangan udara ke Teheran dan tewasnya pemimpin tertinggi Iran pada akhir Februari lalu telah mengubah peta kestabilan energi menjadi medan ketidakpastian yang menyesakkan.

Duka di Selat Hormuz, Beban di Meja Makan

Jalur distribusi Selat Hormuz mengalirkan 20 persen suplai minyak global yang kini terhambat akibat blokade dan kontak senjata. Dampaknya pun segera sampai ke tanah air dalam bentuk penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Per 1 Maret 2026, harga Pertamax naik menjadi Rp12.300 per liter. Bagi banyak orang, kenaikan Rp500 ini adalah awal dari kenaikan harga bahan pokok lainnya yang sering kali mengikuti pergerakan harga energi. Rasa cemas pun menyelimuti para pelaku usaha kecil dan menengah yang sangat bergantung pada kestabilan biaya distribusi.

Baca Juga :  WFH ASN Jadi Harapan Hemat BBM di Tengah Krisis Energi

Direktur CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi yang kian memanas ini. “Konflik berlanjut, harga tembus US$100 jika Hormuz terganggu,” tutur Faisal dalam pernyataannya pada 28 Februari 2026. Kalimat ini menegaskan bahwa jika perang di tanah Persia tidak segera mereda, tekanan sosial akibat tingginya harga energi akan semakin berat dirasakan oleh masyarakat luas.

Menatap Masa Depan di Tengah Kepulan Asap Perang

Keadaan semakin mencekam saat Qatar memutuskan menghentikan pengiriman LNG ke Eropa, yang menambah tekanan pada pasar energi fosil secara global. PBB pada 3 Maret 2026 memberikan sorotan tajam pada kerentanan negara-negara yang belum beralih dari ketergantungan fosil. Bagi Indonesia, situasi ini adalah pengingat betapa rapuhnya ketahanan energi kita ketika terjadi gejolak di belahan dunia lain.

Di koridor kekuasaan, Komisi I DPR RI pada Maret 2026 mulai bergerak untuk menyiapkan skenario antisipasi inflasi. Harapannya, kebijakan yang diambil mampu melindungi rakyat kecil dari hantaman badai ekonomi global yang dipicu oleh konflik bersenjata. Kita semua berharap agar diplomasi segera menemukan jalan keluar, agar bara di Selat Hormuz tidak terus membakar harapan rakyat untuk hidup dalam kestabilan ekonomi yang tenang. ***

Baca Juga :  Harga Minyak Dunia Tembus US$111, Perang Iran Picu Ketakutan Global