EkBis

IHSG Turun ke 5.031, 383 Saham Terekoreksi Sesi I

Indeks Harga Saham Gabungan
Indeks Harga Saham Gabungan

IHSG melemah 1,30 persen ke level 5.031,82 pada sesi pertama Jumat, 30 Oktober 2026. Sebanyak 383 saham terekoreksi, sementara tekanan jual pada saham perbankan besar dan volatilitas pasar menahan langkah indeks.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi pertama perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, pada posisi 5.031,82. Indeks turun 66,25 poin atau 1,30 persen dibanding penutupan sebelumnya, berdasarkan data pasar yang dikutip Katadata.

Pelemahan ini melanjutkan tekanan yang sudah terlihat sejak pembukaan. IHSG dibuka pada level 5.066,94, sebelum bergerak fluktuatif dan sempat menyentuh area di bawah 5.000 pada sesi pagi.

Tekanan Jual Meluas di Bursa

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal perdagangan mencatat 383 saham melemah. Angka itu jauh lebih besar dibanding 105 saham yang menguat, sementara 475 saham tidak berubah.

Rasio saham yang turun menunjukkan tekanan jual tidak hanya terjadi pada satu sektor. Investor tampak lebih berhati-hati menjelang akhir pekan, terutama setelah IHSG mengalami koreksi tajam pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026.

Pada hari sebelumnya, IHSG ditutup anjlok 3,49 persen ke level 5.098,06. Investor asing juga mencatat penjualan bersih atau net sell sekitar Rp1,07 triliun, dengan saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi salah satu sasaran utama pelepasan.

Saham Perbankan Besar Jadi Sorotan

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu saham dengan nilai transaksi terbesar pada sesi pertama. Saham BBCA melemah ke Rp4.910 per lembar, turun 0,61 persen hingga jeda siang.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga masuk dalam daftar saham yang aktif diperdagangkan. BMRI turun 0,54 persen ke Rp3.700 per saham pada sesi yang sama.

Tekanan pada BBCA dan BMRI memberi dampak besar terhadap IHSG karena keduanya termasuk saham berbobot tinggi. Pergerakan saham perbankan besar kerap menjadi penentu arah indeks komposit dalam perdagangan harian.

GOTO Ramai, Asing Masih Beli Bersih

Di tengah pelemahan indeks, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tetap ramai diperdagangkan. GOTO masuk dalam kelompok saham yang paling banyak ditransaksikan investor pada sesi pertama.

Menariknya, investor asing justru mencatat pembelian bersih atau net buy Rp253,09 miliar pada sesi I. Data BEI yang dikutip Kompas.com menunjukkan nilai beli asing mencapai Rp2,49 triliun, sedangkan nilai jual Rp2,23 triliun.

“GOTO menjadi saham yang paling banyak diborong investor asing dengan nilai Rp70,10 miliar,” demikian data perdagangan BEI yang dilaporkan Kompas.com, Jumat, 30 Oktober 2026.

Kondisi ini menunjukkan arus dana asing tidak sepenuhnya keluar dari pasar modal Indonesia. Meski IHSG melemah, sebagian investor besar masih melakukan akumulasi pada saham tertentu yang dinilai menarik setelah harga terkoreksi.

Sektor Infrastruktur Paling Tertekan

Dari sisi sektor, pelemahan terdalam terjadi pada sektor infrastruktur yang turun 1,97 persen. Sektor konsumen non-primer turun 1,52 persen, disusul transportasi yang melemah 1,48 persen dan barang baku 1,38 persen.

Pelemahan lintas sektor memperlihatkan sentimen pasar yang masih rapuh. Namun, sejumlah saham kecil dan menengah justru mencatat kenaikan signifikan, termasuk Samindo Resources Tbk (MYOH) yang menguat 21,11 persen ke Rp1.090.

Fenomena ini lazim terjadi saat pasar sedang tertekan. Dana investor cenderung berpindah ke saham dengan likuiditas atau cerita pertumbuhan tertentu, sementara saham berkapitalisasi besar mengalami distribusi.

Apa Artinya bagi Investor Ritel?

Bagi investor ritel, pelemahan IHSG ke level 5.031 menuntut kehati-hatian. Koreksi tajam dapat membuka peluang beli bertahap, tetapi juga meningkatkan risiko bila tekanan jual pada saham big cap berlanjut.

Pergerakan IHSG ke depan akan sangat dipengaruhi arus dana asing, nilai tukar rupiah, serta reaksi pasar terhadap saham perbankan besar. Investor perlu memperhatikan volume transaksi dan posisi support di sekitar level 5.000.

Selama indeks masih berada di atas 5.000 pada penutupan sesi I, pasar belum sepenuhnya kehilangan pijakan. Namun, 383 saham yang terekoreksi menjadi pengingat bahwa tekanan jual masih menguasai mayoritas saham di BEI.

Secara keseluruhan, IHSG pada Jumat, 30 Oktober 2026, bergerak dalam suasana hati-hati. Pasar masih menunggu kepastian arah dana asing dan pemulihan saham perbankan besar sebelum koreksi benar-benar mereda.