Setelah sekitar empat dekade menemani ayam goreng di meja makan Amerika, minuman Pepsi mulai kehilangan tempatnya di KFC. Kemitraan KFC Coca-Cola, menurut Reuters pada Kamis (15/10/2026), mencakup 3.718 gerai di Amerika Serikat dan menggantikan PepsiCo.
Keputusan ini mengakhiri kerja sama yang sudah berjalan sekitar empat dekade. KFC memiliki 3.718 gerai di Amerika Serikat, dan seluruhnya bakal beralih ke produk Coca-Cola. Jadwal kehadiran produk Coca-Cola jatuh pada musim semi 2027. Langkah ini menjadi kehilangan besar bagi PepsiCo, mitra minuman KFC sejak hampir empat dekade lalu.
Kabar peralihan ini pertama kali muncul lewat The Wall Street Journal. Surat kabar itu mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut. Reuters kemudian melaporkan hal serupa pada Kamis (15/10/2026). Nilai kerja sama tidak diungkap kepada publik.
Dalam industri restoran, mitra minuman berarti pemasok soda yang dijual di gerai. Kerja sama semacam ini memberi pemasok akses ke ribuan titik penjualan. Karena itu, perpindahan satu jaringan besar bisa mengubah peta persaingan di antara dua raksasa minuman.
Hubungan Panjang KFC dan PepsiCo
Kisah kedua perusahaan bermula saat PepsiCo mengakuisisi KFC. Saat itu PepsiCo ingin memperluas bisnis ke makanan dan camilan. Pada 1997, PepsiCo melepas KFC dari kepemilikannya. Meski begitu, PepsiCo tetap menjadi mitra minuman bagi induk KFC, Yum Brands.
Peralihan ke Coca-Cola hanya berlaku untuk gerai KFC di Amerika Serikat. Juru bicara PepsiCo menyebut Yum Brands dan PepsiCo baru saja memperpanjang perjanjian untuk Taco Bell dan gerai KFC International. Kontrak untuk Taco Bell disebut berlaku 10 tahun.
PepsiCo masih memasok minuman untuk jaringan sandwich Subway dan Jersey Mike's Subs. Perusahaan itu juga mengelola dispenser soda di Pizza Hut, yang tahun ini keluar dari naungan Yum Brands. Sementara itu, Coca-Cola sudah lama menjadi mitra minuman McDonald's dan Wendy's. Lewat KFC, Coca-Cola kini menambah satu nama besar lagi dalam daftar pelanggannya.
Tekanan Bertubi di Pundak PepsiCo
Lepasnya KFC AS dinilai bisa menjadi kemunduran bagi PepsiCo. Soal penjualan soda di negara itu, PepsiCo tengah berupaya memperbaikinya. Bisnis camilannya pun tertekan harga tinggi. Konsumen juga bergeser ke produk yang lebih sehat.
Kenaikan biaya menambah kekhawatiran CEO PepsiCo Ramon Laguarta. Awal bulan ini, ia menyebut pemulihan pertumbuhan dan margin memakan waktu lebih lama dari rencana. Investor aktivis Elliott Investment Management juga menyorot perusahaan itu. Elliott mengungkap kepemilikan sahamnya tahun lalu. Mereka meminta PepsiCo menjual aset berkinerja buruk dan memperbaiki kinerja di Amerika Utara.
Margin menggambarkan seberapa besar laba dari setiap penjualan. Adapun investor aktivis adalah pemegang saham yang mendorong perusahaan mengubah strategi demi mendongkrak nilainya. Akibat dua tekanan itu, setiap kehilangan pelanggan besar memperberat tugas manajemen.
Sinyal Pasar dan Dampak bagi Pelanggan
Jay Woods, kepala strategi pasar Freedom Capital Markets, memberikan pandangan. Perusahaannya memegang saham Coca-Cola. Ia menilai peralihan KFC ini menjadi sinyal buruk bagi PepsiCo. Pandangan itu menambah daftar sorotan terhadap PepsiCo yang sudah panjang.
Pelanggan di Amerika akan merasakan perubahan paling nyata pada cita rasa soda di gerai KFC mulai musim semi 2027. Di luar Amerika, perjanjian untuk gerai KFC International justru baru diperpanjang, menurut juru bicara PepsiCo. Alhasil, pembaca di Indonesia perlu membedakan pasar Amerika dari pasar global.
Kehilangan pelanggan sebesar KFC AS menimpa PepsiCo di tengah pembenahan yang belum selesai. Belum jelas bagaimana kesepakatan ini memengaruhi pendapatan perusahaan, sebab nilai kontrak tidak dibuka. Pelaku pasar kini menunggu langkah berikutnya dari manajemen.
Secara keseluruhan, kemitraan KFC Coca-Cola menutup bab panjang yang bermula sejak PepsiCo memiliki KFC. Bagi Coca-Cola, kesepakatan ini memperkuat posisi di jaringan restoran cepat saji Amerika. Untuk PepsiCo, kabar ini menambah daftar pekerjaan rumah di tengah tekanan investor. Perkembangan berikutnya akan menentukan seberapa besar dampaknya.
Sumber: The Wall Street Journal, Reuters (15/10/2026), keterangan juru bicara PepsiCo, dan penilaian Jay Woods dari Freedom Capital Markets. Diperbarui 19 Oktober 2026.