Asap gas air mata menyelimuti pusat Tirana saat demo Albania memasuki hari kelima pada Sabtu (17/10), dan untuk pertama kalinya polisi menembakkan peluru karet ke arah massa. Pelajar, mahasiswa, dan warga yang marah menuntut Perdana Menteri Edi Rama mundur.
Bentrokan di jantung Tirana itu meluas ke beberapa titik, termasuk area dekat kantor Rama. Pengunjuk rasa melemparkan batu, bom molotov, dan kembang api ke arah polisi. Situasi makin tegang ketika massa berusaha menerobos barisan pengamanan.
Demo Albania Memanas, Polisi Mulai Pakai Peluru Karet
Aparat membalas dengan gas air mata, meriam air, dan tindakan represif menggunakan tongkat. Kantor berita AFP melaporkan bahwa polisi memakai peluru karet untuk pertama kalinya sejak unjuk rasa dimulai. Kepala Kepolisian Nasional Skender Hita mengakui hal itu dalam konferensi pers pada Sabtu (17/10). Ia menyebut peluru karet digunakan "secara terbatas".
Pengakuan tersebut menandai babak baru dalam konfrontasi di jalanan ibu kota. Selama empat hari sebelumnya, polisi belum menggunakan senjata jenis itu terhadap massa. Kini kedua pihak berhadapan dengan risiko cedera yang lebih besar.
Bagi massa di barisan depan, perubahan taktik aparat terasa langsung. Mereka tidak lagi hanya menghadapi gas air mata dan meriam air. Setiap bentrokan membawa risiko yang lebih nyata, baik bagi pengunjuk rasa maupun polisi yang menahan barisan.
Penangkapan dan Korban Luka dari Kedua Kubu
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Albania melaporkan sembilan pengunjuk rasa dan empat polisi menerima perawatan medis pada Sabtu. Angka kumulatif yang disampaikan Hita jauh lebih besar. Menurut dia, polisi menangkap 167 orang selama lima hari demonstrasi. Sebanyak 132 petugas juga mengalami luka-luka.
Di tengah sorotan itu, kepolisian menonaktifkan sementara tujuh petugas. Mereka menunggu hasil penyelidikan atas dugaan penyalahgunaan wewenang. Langkah tersebut memberi sinyal bahwa cara aparat menangani massa ikut diperiksa.
Pelajar dan Mahasiswa Memperluas Gerakan
Perubahan paling mencolok datang dari barisan peserta. Pelajar sekolah menengah dan mahasiswa bergabung pada hari kelima, sehingga gerakan menentang Rama makin luas. Kehadiran generasi muda memberi wajah baru pada aksi yang sudah berlangsung berhari-hari.
Kemarahan publik berkisar pada pendidikan, pengangguran, dan dugaan korupsi. Persoalan itu menyentuh kehidupan sehari-hari, mulai dari ruang kelas hingga peluang kerja setelah lulus. Karena itu, tuntutan agar Rama mundur kini berkembang menjadi konfrontasi yang lebih besar dengan pemerintah.
Gelombang ini juga memperlihatkan jarak antara pemerintah dan warga muda. Mereka menuntut jawaban atas masa depan pendidikan dan pekerjaan, selain meminta Rama mundur.
Edi Rama Menolak Mundur dan Menuding Kubu Konservatif
Rama memimpin Albania bersama Partai Sosialis sejak 2013 dan kini menjabat untuk periode keempat. Ia menolak mundur dari jabatannya. Di sela situasi panas, ia mengunjungi tempat usaha yang rusak akibat demonstrasi.
Perdana menteri itu berjanji mendengarkan aspirasi para pelajar. Ia juga berjanji melindungi hak mereka untuk berunjuk rasa. Meski begitu, Rama memperingatkan agar tidak ada lagi perusakan. Ia menuding lawan politiknya dari kubu konservatif sebagai pemicu kekerasan.
Pernyataan itu membuat ketegangan politik makin tajam. Pemerintah menyalahkan lawan politik, sementara pengunjuk rasa menyuarakan keluhan yang lebih luas, dari pendidikan hingga korupsi.
Dampak bagi Warga, Pelajar, dan Aparat
Bentrokan ini meninggalkan jejak di banyak pihak. Pelajar dan mahasiswa yang turun ke jalan menghadapi gas air mata, meriam air, dan kini peluru karet. Polisi di barisan depan juga terluka dalam jumlah besar. Pemilik usaha yang tempatnya rusak harus menghitung kerugian di tengah ketidakpastian.
Demo Albania kini menguji dua hal sekaligus: kesabaran publik dan kredibilitas pemerintah. Rama memilih bertahan sambil menjanjikan dialog, sedangkan massa menuntut perubahan yang lebih mendasar. Penyelidikan terhadap tujuh polisi yang dinonaktifkan akan menjadi ujian awal atas komitmen itu. Publik kini menunggu apakah janji mendengar aspirasi benar-benar berujung pada langkah nyata.