Sinar Jiwa – CSR Antam Pongkor menjadi instrumen utama perusahaan dalam membangun kemitraan jangka panjang bersama masyarakat untuk mengelola hutan desa di Bantarkaret, Kabupaten Bogor. Program ini tidak hanya berorientasi bantuan, tetapi dirancang sebagai strategi kolaboratif yang menghubungkan kepentingan lingkungan dan kesejahteraan warga.

Dalam praktiknya, pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai bagian dari sistem pengelolaan, bukan sekadar penerima manfaat. Hal ini terlihat dari berbagai program yang dijalankan secara terstruktur dan berkelanjutan di kawasan tersebut.

Model Kemitraan dalam Pengelolaan Hutan Desa

CSR Antam Pongkor mengedepankan pola kemitraan yang mengubah hubungan perusahaan dan masyarakat menjadi lebih setara. Pengelola hutan desa diposisikan sebagai mitra strategis dalam menjaga ekosistem sekaligus mengembangkan potensi ekonomi.

Manajer CSR PT Antam UBPE Pongkor, Arif Rahman Saleh, menegaskan bahwa program yang dijalankan tidak berhenti pada bantuan jangka pendek. Pendekatan yang diambil berfokus pada keberlanjutan melalui keterlibatan aktif masyarakat.

Pengelola hutan desa kami posisikan sebagai mitra strategis. Kami ingin memastikan keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan warga bisa berjalan beriringan,” kata Arif Rahman Saleh pada Selasa, 7 April 2026.

Dalam kerangka itu, masyarakat didorong untuk memiliki peran langsung dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya. Artinya, keberhasilan program sangat bergantung pada kapasitas lokal yang terus diperkuat.

Penguatan Peran Kelompok Tani Hutan

Salah satu titik tekan program adalah penguatan kelembagaan kelompok tani hutan. Kelompok ini menjadi ujung tombak dalam menjaga konsistensi pengelolaan kawasan hutan desa.

Di lapangan, penguatan dilakukan melalui peningkatan kapasitas organisasi, pendampingan teknis, serta pengembangan potensi ekonomi berbasis kehutanan sosial. Dengan pendekatan ini, kelompok tidak hanya menjaga hutan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.

Yang kerap luput diperhatikan, model ini menciptakan hubungan timbal balik. Hutan tetap terjaga, sementara masyarakat mendapatkan sumber penghidupan yang lebih stabil.

Bantarkaret sebagai Representasi Implementasi Strategi

Desa Bantarkaret menjadi contoh konkret bagaimana CSR Antam Pongkor diterapkan secara konsisten. Wilayah ini dinilai memiliki peran penting sebagai ekosistem yang harus dilestarikan sekaligus sumber ekonomi bagi warga.

Secara faktual, konsistensi masyarakat dalam menjaga kawasan hutan mendapat perhatian dari perusahaan. Dukungan tidak hanya diberikan dalam bentuk program, tetapi juga melalui pengakuan yang lebih luas.

Hal ini terlihat dari keterlibatan Bantarkaret dalam Lomba Wana Lestari 2026 yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan. Partisipasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas eksposur atas praktik pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

Kami berharap Bantarkaret bisa menjadi contoh bagi desa lain,” ujar Arif Rahman Saleh.

Dalam konteks tersebut, ajang ini tidak hanya berfungsi sebagai kompetisi. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi praktik terbaik yang telah dijalankan masyarakat bersama perusahaan.

Integrasi Ekonomi dan Kelestarian Lingkungan

Program CSR Antam Pongkor dirancang untuk memastikan masyarakat memiliki dua peran sekaligus. Di satu sisi sebagai penjaga hutan, di sisi lain sebagai pelaku ekonomi berbasis sumber daya alam.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan hutan desa tidak berdiri sendiri. Ia terhubung langsung dengan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada keberlanjutan ekosistem.

Dalam perkembangan selanjutnya, pola ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas pertambangan dan pelestarian lingkungan di wilayah operasionalnya.