Sinar Jiwa – Ancaman Iran untuk keluar dari gencatan senjata Iran AS muncul setelah serangan besar Israel ke Lebanon, yang dinilai sebagai pelanggaran kesepakatan yang sedang berjalan. Situasi ini menimbulkan ketegangan baru di tengah upaya penghentian konflik yang sebelumnya telah disepakati selama dua pekan.
Pernyataan tersebut disampaikan sumber kepada kantor berita Tasnim, Rabu (8/4/2026). Iran menegaskan akan menarik diri jika serangan Israel ke Lebanon terus berlangsung. Dalam konteks ini, Teheran melihat adanya ketidaksesuaian antara kesepakatan dan realitas di lapangan.
Ancaman Iran dalam Kerangka Gencatan Senjata
Menurut sumber tersebut, gencatan senjata Iran AS mencakup penghentian konflik di semua lini, termasuk wilayah Lebanon. Artinya, setiap bentuk serangan lintas wilayah dianggap sebagai pelanggaran langsung terhadap kesepakatan awal.
“Iran akan menarik diri dari perjanjian tersebut jika pelanggaran gencatan senjata oleh rezim Zionis terus berlanjut melalui serangan terhadap Lebanon,” ujar sumber itu.
Dalam praktiknya, Iran saat ini masih meninjau situasi secara menyeluruh. Peninjauan ini difokuskan pada intensitas dan frekuensi serangan Israel yang disebut terus berlanjut.
Yang jadi sorotan, Iran menempatkan posisi ini sebagai bagian dari evaluasi terhadap komitmen Amerika Serikat dalam menjaga kesepakatan. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman tersebut bukan hanya respons militer, tetapi juga tekanan diplomatik.
Serangan Israel dan Data Korban di Lebanon
Di lapangan, Israel mengakui telah melakukan serangan besar ke berbagai wilayah Lebanon. Tentara Israel menyebut lebih dari 100 lokasi diserang dalam waktu 10 menit.
Wilayah yang terdampak meliputi Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan. Intensitas serangan ini menjadi salah satu faktor utama meningkatnya ketegangan.
Dampak Langsung Serangan
Menteri Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban yang signifikan. Sebanyak 182 orang tewas dan 890 lainnya mengalami luka-luka dalam serangan tersebut.
Secara keseluruhan, jumlah korban sejak awal Maret 2026 mencapai 1.739 orang tewas. Angka ini menunjukkan eskalasi yang terus meningkat meski ada kesepakatan gencatan senjata Iran AS.
Di sisi lain, Hizbullah yang didukung Iran tidak melaporkan adanya operasi militer sejak pukul 01.00 waktu setempat. Hal ini menjadi kontras dengan intensitas serangan yang dilakukan Israel.
Perbedaan Klaim dan Situasi di Lapangan
Yang kerap luput diperhatikan, terdapat perbedaan klaim terkait cakupan gencatan senjata. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut.
Namun pada kenyataannya, mediator Pakistan menyebut Lebanon merupakan bagian dari paket perdamaian yang sama. Perbedaan ini memperumit interpretasi atas kesepakatan yang ada.
Dalam perkembangan selanjutnya, Israel justru memperbarui perintah evakuasi untuk wilayah lebih dari 40 kilometer di Lebanon. Langkah ini menunjukkan bahwa operasi militer masih terus berlangsung.
Peringatan evakuasi juga dikeluarkan untuk wilayah Tyre selatan sebelum akhirnya diserang. Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan serangan terjadi setelah peringatan tersebut disampaikan.
Seorang pejabat Lebanon menyatakan bahwa pihaknya tidak menerima pemberitahuan resmi mengenai dimasukkannya Lebanon dalam kesepakatan gencatan senjata. Kondisi ini menambah ketidakjelasan dalam implementasi di lapangan.
